Kamis, 21 Februari 2019 17:47

Terkena Lumpuh Layu, Dinda Ingin Tetap Sekolah dan Jadi Dokter

Minggu, 13 Januari 2019 23:46 WIB
Editor: Rizki Daniarto
Wartawan: Anton Suroso
Terkena Lumpuh Layu, Dinda Ingin Tetap Sekolah dan Jadi Dokter
Dinda Putri Aprilia, terserang lumpuh layu tapi tetap ingin sekolah dan jadi dokter.

MAGETAN, BANGSAONLINE.com - Inilah Dinda Putri Aprilia, 6 tahun, anak kedua dari pasangan suami istri (pasutri) Sutopo (almarhum) dan Suminah, warga Desa Bogorejo, Dusun Barat, RT 17, RW 03 , Kecamatan Barat. Anak ini mengalami lumpuh di kedua kakinya sejak umur 8 bulan, namun tetap tegar bercita-cita tinggi.

Sebuah papan yang memiliki roda plastik di empat sisinya terlihat teronggok di sudut rumahnya. Pun kursi roda yang usang dan sudah berkarat juga dibiarkan terdiam di dekat kasur yang dihamparkan di lantai di ruangan rumahnya.

Dengan semangatnya, Dinda terlihat terbiasa dengan cepat merangkak bak seorang tentara. Ia menyeret kedua kakinya yang lemas menemui teman-teman kecilnya yang sudah menunggunya di teras.

Di saat kakaknya Siswanto (21) mengantar ibunya Suminah (44) berobat ke puskesmas terdekat, Shiva (4) dan Gamma (1,5) serta sejumlah anak balita lainnya sudah berkumpul di teras rumahnya, sehingga Dinda ada teman bermain.

Dinda dengan cepatnya membaur dengan teman-temannya. Dia langsung meraih tanah dari lubang lantai semen rumahnya yang telah rusak. "Ayo, aku mau masak sayur,” ujarnya kepada teman-temannya, Kamis (10/1) lalu.

Tak berlangsung lama kakaknya Siswanto terlihat pulang dari puskesmas dengan mengendarai motor tua tinggalan bapaknya. Dia terpaksa libur dari pekerjaannya sebagai buruh konveksi hari itu agar bisa mengantar ibunya berobat. Hari itu terpaksa dia ikhlaskan jika gajinya akan dipotong perusahaan. Kegiatan rutin tersebut dilakukan setiap seminggu sekali.

“Ibu masih ngantre. Saya tinggal pulang jagain Dinda dulu. Ibu habis dioperasi kakinya karena luka akibat diabetes. Alhamdulillah, lukanya sudah mulai pulih,” kata Siswanto.

Dinda yang bermain di teras rumah bersama teman-temannya terlihat sangat ceria. Sesekali kaki mungilnya diseret mengikuti teman-temannya berlarian sekitar teras. Bahkan tampak beberapa bagian kaki Dinda menghitam dan menebal karena setiap harinya bergesekan dengan lantai rumah yang terbuat dari semen.

“Sebenarnya sudah diberi papan beroda sama seseorang agar mudah bergerak, tapi juga gak dipakai. Kursi roda dari tetangga juga ada tapi juga gak mau pakai. Dinda lebih suka ngesot,” ujar Siswanto.

Siswanto menceritakan, keadaan Dinda yang mengalami lumpuh layu itu berawal dari sakit panas yang diderita ketika berusia 8 bulan. Saat itu ayahnya yang bekerja sebagai pembuat genting memilih memijatkan Dinda kecil karena kebiasaan sejumlah warga di Desa Bogorejo seperti itu.

“Dinda seperti anak lainnya, ceria, aktif dan sering minta tetah untuk belajar jalan,” imbuh Siswanto. Namun ironisnya bukan kesembuhan yang didapat. Tapi pasca dipijat, kedua kaki Dinda justru menjadi lemas dan tidak sanggup menahan badannya saat ditetah untuk belajar berjalan. Keadaan tersebut berlanjut sampai saat ini, Dinda berumur 6 tahun.

Karena hal itu, kegiatan keseharian Dinda hanya berkutat di rumah bermain. “Biasanya tidak seramai ini karena kebanyakan orang tua anak-anak pada bekerja. Kebetulan ini tadi pada ngumpul,” ungkap Fatimah, tetangga Dinda.

Meski mengalami lumpuh layu, Dinda masih sempat mengikuti PAUD dengan diantar jemput oleh bapak maupun ibunya. Namun itupun tidak berlangsung lama. Di tengah semangatnya bermain dan belajar di PAUD, ibunya tiba-tiba harus menjalani operasi luka di kaki akibat sakit diabetes.

Yang kemudian disusul ayahnya Sutopo meninggal dunia. Tidak adanya tulang punggung keluarga di saat ibunya sakit diabetes membuat tangung jawab mencari nafkah bergantung kepada Siswanto. Kejadian itupun membuat sekolah Dinda terabaikan.

Alat permainan stetoskop dari plastik terlihat sesekali Dinda mainkan, diletakkan di beberapa bagian tubuh temanya Shiva. Setiap ditanya cita-citanya, Dinda kecil akan lantang menjawab menjadi dokter.

“Menolong orang tua, menolong sakit, menolong semualah,“ ujarnya.

Meski baru berusia 6 tahun, Dinda tahu jika untuk menggapai cita citanya menjadi dokter, dia harus sekolah. Dengan keadaannya tersebut Dinda berharap ada orang yang baik hati yang membantu kebutuhannya agar bisa sekolah seperti anak-anak lainnya. (ton/rd)

Tim PSC Dinkes Pacitan Siaga 24 Jam, Apa Saja Tugasnya?
Jumat, 01 Februari 2019 06:27 WIB
PACITAN, BANGSAONLINE.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mempunyai tim public safety center (PSC) yang siaga 24 jam dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Apa saja tugas tim ini? Simak video berikut.
Selasa, 19 Februari 2019 16:59 WIB
BANGSAONLINE.com - Februari udah mau abis aja nih... Saygon Waterpark punya banyak banget promo menarik buat kalian di bulan Februari ini. Ayo... jangan sampai ketinggalan ya...1. Romantic Moment, Berdua Lebih HematBuat kalian yang dateng berdua sama...
Suparto Wijoyo
Rabu, 20 Februari 2019 12:01 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*DEBAT capres kedua telah digelar dengan segala kehormatannya pada 17 Februari 2019. Riuh tepuk tangan dan sorakan terdengar di setiap kerumunan sebagai lahan hiburan politik yang sangat komunalistik. Saya sendiri menepikan dir...
Sabtu, 16 Februari 2019 11:20 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.AgAl-Isra': 24وَاخْفِضْلَهُمَاجَنَاحَالذُّلِّمِنَالرَّحْمَةِوَقُلْرَّبِّارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيٰنِيْصَغِيْرًاۗWaikhfidh...
Dr. KH. Imam Ghazali Said.
Jumat, 01 Februari 2019 11:02 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...