Kamis, 21 Februari 2019 11:52

Tafsir Al-Isra' 18-19: Memahami Syukur dari Pepohonan

Minggu, 13 Januari 2019 15:55 WIB
Editor: Redaksi
Wartawan: --
Tafsir Al-Isra
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

Al-Isra': 18-19

man kaana yuriidu al’aajilata ‘ajjalnaa lahu fiihaa maa nasyaau liman nuriidu tsumma ja’alnaa lahu jahannama yashlaahaa madzmuuman madhuuraan (18).

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

waman araada al-aakhirata wasa’aa lahaa sa’yahaa wahuwa mu/minun faulaa-ika kaana sa’yuhum masykuuraan (19).

Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.

TAFSIR AKTUAL

Penutup ayat 19 berbunyi "faulaa-ika kaana sa’yuhum masykuuraan". Mereka yang memburu kehidupan akhirat, maka Tuhan akan merespons positif usaha mereka secara berlebih, "masykura". Jauh lebih besar reward Tuhan yang diberikan ketimbang upaya yang dilakukan.

Berbagai varian terkait makna "masykura" ini. Selain makna di atas, ada makna yang diambil dari bahasa tradisi orang-orang arab tempo dulu. Pedesaan arab menyebut pohon yang berbuah sangat lebat, banyak, dan lumintu, dengan "Syajarah Syakirah". Sebutan itu umum di kalangan para petani. Begitu pula terhadap unta betina yang produktif, banyak melahirkan anak yang bagus-bagus dan menyenangkan sang peternak. Mereka menyebutnya "Naqah Syakirah".

Jika diaplikasikan kepada diri kita, maka masykura atau syakira atau bersyukur itu tertuju pada produktivitas ibadah. Kesehatannya standar, tapi ibadahnya banyak. Rezekinya tidak seberapa melimpah, tapi sedekahnya banyak. Asupan makanan biasa, tapi amal kebaikan banyak. Ilmunya tidak seberapa, tapi mengajarnya siang malam. Itulah hamba Allah yang bersyukur.

Berulang kali mengucap alhamdulillah, tapi tidak ada amal perbuatan nyata, maka itu bukan bersyukur sejatinya. Itu kemunafikan yang tidak terasa. Mereka yang makan kenyang, enak dan bergizi, tapi energinya untuk maksiat atau dibiarkan saja, juga aktif berolahraga agar sehat dan setelah sehat, malah santai dan tidak ibadah, meski berucap syukur berkali-kali atas kenyangnya, atas sehatnya, tapi itu bukan bersyukur melainkan kufur. Memang tidak mengkufuri Tuhan, tapi mengkufuri anugerah-Nya.

Tim PSC Dinkes Pacitan Siaga 24 Jam, Apa Saja Tugasnya?
Jumat, 01 Februari 2019 06:27 WIB
PACITAN, BANGSAONLINE.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Pacitan mempunyai tim public safety center (PSC) yang siaga 24 jam dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Apa saja tugas tim ini? Simak video berikut.
Selasa, 19 Februari 2019 16:59 WIB
BANGSAONLINE.com - Februari udah mau abis aja nih... Saygon Waterpark punya banyak banget promo menarik buat kalian di bulan Februari ini. Ayo... jangan sampai ketinggalan ya...1. Romantic Moment, Berdua Lebih HematBuat kalian yang dateng berdua sama...
Suparto Wijoyo
Rabu, 20 Februari 2019 12:01 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*DEBAT capres kedua telah digelar dengan segala kehormatannya pada 17 Februari 2019. Riuh tepuk tangan dan sorakan terdengar di setiap kerumunan sebagai lahan hiburan politik yang sangat komunalistik. Saya sendiri menepikan dir...
Sabtu, 16 Februari 2019 11:20 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.AgAl-Isra': 24وَاخْفِضْلَهُمَاجَنَاحَالذُّلِّمِنَالرَّحْمَةِوَقُلْرَّبِّارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيٰنِيْصَغِيْرًاۗWaikhfidh...
Dr. KH. Imam Ghazali Said.
Jumat, 01 Februari 2019 11:02 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...