Kamis, 22 Agustus 2019 21:24

Tafsir Al-Isra' 18-19: Memahami Syukur dari Pepohonan

Minggu, 13 Januari 2019 15:55 WIB
Editor: Redaksi
Wartawan: --
Tafsir Al-Isra
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

Al-Isra': 18-19

man kaana yuriidu al’aajilata ‘ajjalnaa lahu fiihaa maa nasyaau liman nuriidu tsumma ja’alnaa lahu jahannama yashlaahaa madzmuuman madhuuraan (18).

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

waman araada al-aakhirata wasa’aa lahaa sa’yahaa wahuwa mu/minun faulaa-ika kaana sa’yuhum masykuuraan (19).

Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.

TAFSIR AKTUAL

Penutup ayat 19 berbunyi "faulaa-ika kaana sa’yuhum masykuuraan". Mereka yang memburu kehidupan akhirat, maka Tuhan akan merespons positif usaha mereka secara berlebih, "masykura". Jauh lebih besar reward Tuhan yang diberikan ketimbang upaya yang dilakukan.

Berbagai varian terkait makna "masykura" ini. Selain makna di atas, ada makna yang diambil dari bahasa tradisi orang-orang arab tempo dulu. Pedesaan arab menyebut pohon yang berbuah sangat lebat, banyak, dan lumintu, dengan "Syajarah Syakirah". Sebutan itu umum di kalangan para petani. Begitu pula terhadap unta betina yang produktif, banyak melahirkan anak yang bagus-bagus dan menyenangkan sang peternak. Mereka menyebutnya "Naqah Syakirah".

Jika diaplikasikan kepada diri kita, maka masykura atau syakira atau bersyukur itu tertuju pada produktivitas ibadah. Kesehatannya standar, tapi ibadahnya banyak. Rezekinya tidak seberapa melimpah, tapi sedekahnya banyak. Asupan makanan biasa, tapi amal kebaikan banyak. Ilmunya tidak seberapa, tapi mengajarnya siang malam. Itulah hamba Allah yang bersyukur.

Berulang kali mengucap alhamdulillah, tapi tidak ada amal perbuatan nyata, maka itu bukan bersyukur sejatinya. Itu kemunafikan yang tidak terasa. Mereka yang makan kenyang, enak dan bergizi, tapi energinya untuk maksiat atau dibiarkan saja, juga aktif berolahraga agar sehat dan setelah sehat, malah santai dan tidak ibadah, meski berucap syukur berkali-kali atas kenyangnya, atas sehatnya, tapi itu bukan bersyukur melainkan kufur. Memang tidak mengkufuri Tuhan, tapi mengkufuri anugerah-Nya.

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Rabu, 21 Agustus 2019 17:27 WIB
BANGSAONLINE.com - Destinasi wisata di Indonesia tidak hanya Bali, Lombok, ataupun Jogjakarta. Masih banyak destinasi wisata lain dengan panorama yang tidak kalah indah, salah satunya adalah Lampung. Letaknya yang berada di ujung Pulau Sumate...
Minggu, 11 Agustus 2019 17:36 WIB
Oleh: Em Mas’ud AdnanPeta politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kota Surabaya kembali berubah. Awalnya ada tiga kekuatan kubu politik di internal PDIP Kota Surabaya. Kubu Wihsnu Sakti Buana (wakil wali kota Surabaya), Bambang...
Senin, 19 Agustus 2019 01:09 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag58. wa-in min qaryatin illaa nahnu muhlikuuhaa qabla yawmi alqiyaamati aw mu’adzdzibuuhaa ‘adzaaban syadiidan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraanDan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduk...
Sabtu, 17 Agustus 2019 11:29 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...