Selasa, 23 April 2019 00:02

Tafsir Al-Isra' 18-19: Memahami Syukur dari Pepohonan

Minggu, 13 Januari 2019 15:55 WIB
Editor: Redaksi
Wartawan: --
Tafsir Al-Isra
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

Al-Isra': 18-19

man kaana yuriidu al’aajilata ‘ajjalnaa lahu fiihaa maa nasyaau liman nuriidu tsumma ja’alnaa lahu jahannama yashlaahaa madzmuuman madhuuraan (18).

Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

waman araada al-aakhirata wasa’aa lahaa sa’yahaa wahuwa mu/minun faulaa-ika kaana sa’yuhum masykuuraan (19).

Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.

TAFSIR AKTUAL

Penutup ayat 19 berbunyi "faulaa-ika kaana sa’yuhum masykuuraan". Mereka yang memburu kehidupan akhirat, maka Tuhan akan merespons positif usaha mereka secara berlebih, "masykura". Jauh lebih besar reward Tuhan yang diberikan ketimbang upaya yang dilakukan.

Berbagai varian terkait makna "masykura" ini. Selain makna di atas, ada makna yang diambil dari bahasa tradisi orang-orang arab tempo dulu. Pedesaan arab menyebut pohon yang berbuah sangat lebat, banyak, dan lumintu, dengan "Syajarah Syakirah". Sebutan itu umum di kalangan para petani. Begitu pula terhadap unta betina yang produktif, banyak melahirkan anak yang bagus-bagus dan menyenangkan sang peternak. Mereka menyebutnya "Naqah Syakirah".

Jika diaplikasikan kepada diri kita, maka masykura atau syakira atau bersyukur itu tertuju pada produktivitas ibadah. Kesehatannya standar, tapi ibadahnya banyak. Rezekinya tidak seberapa melimpah, tapi sedekahnya banyak. Asupan makanan biasa, tapi amal kebaikan banyak. Ilmunya tidak seberapa, tapi mengajarnya siang malam. Itulah hamba Allah yang bersyukur.

Berulang kali mengucap alhamdulillah, tapi tidak ada amal perbuatan nyata, maka itu bukan bersyukur sejatinya. Itu kemunafikan yang tidak terasa. Mereka yang makan kenyang, enak dan bergizi, tapi energinya untuk maksiat atau dibiarkan saja, juga aktif berolahraga agar sehat dan setelah sehat, malah santai dan tidak ibadah, meski berucap syukur berkali-kali atas kenyangnya, atas sehatnya, tapi itu bukan bersyukur melainkan kufur. Memang tidak mengkufuri Tuhan, tapi mengkufuri anugerah-Nya.

Polda Jatim Gerebek Pabrik Makanan Ringan Berbahan Tawas dan Bumbu Kadaluarsa di Sidoarjo
Jumat, 15 Maret 2019 05:14 WIB
SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Tim Satgas Pangan Polda Jatim menggerebek pabrik produksi makanan ringan (snack) di Dusun Dodokan, Desa Tanjungsari, Taman, Sidoarjo, Kamis (14/3). Dalam penggerebekan ditemukan bahan baku berbahaya dan kadaluarsa y...
Selasa, 26 Maret 2019 21:54 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - KAI Daop 7 ajak beberapa wartawan wilayah Madiun, mulai dari wartawan cetak, online, dan televisi, ke tempat bangunan bersejarah Lawang Sewu dan Stasiun Ambarawa, Selasa (26/3). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari (25-26...
Izza Kustiarti
Senin, 22 April 2019 17:12 WIB
Oleh: Izza Kustiarti*Pemilu serentak 2019 merupakan pemilu perdana yang menyertakan antara pemilihan legislatif dengan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Penyelenggaraan pemilu serentak merupakan titah dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nom...
Senin, 22 April 2019 00:24 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag36. Walaa taqfu maa laysa laka bihi ‘ilmun inna alssam’a waalbashara waalfu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uulaanDan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Se...
Dr. KH. Imam Ghazali Said.
Jumat, 01 Februari 2019 11:02 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...