Ilustrasi.
Tidak ada ada kesulitan apa-apa bagi Allah SWT membisakan semua manusia mampu membaca buku catatan amal masing-masing kelak di akhirat nanti. Soal pakai bahasa apa buku catatan amal tersebut? Allah a'lam. Yang jelas semua manusia bisa memahami. Bisa dengan bahasa yang dulu pernah dia mengerti ketika di dunia dan bisa jadi Allah SWT menyeragamkan pakai bahasa arab. Yang terakhir ini kecenderungan ulama.
Bergembiralah mereka yang naik kelas, ke surga yang diidamkan dan celakalah mereka yang harus tinggal di neraka. Keputusan Tuhan tidak bisa diganggu gugat, seperti lazimnya keputusan lulus dan tidak di sekolah kita, kecuali atas belas kasihan Tuhan sendiri, maka keadaan bisa berubah.
Di akhirat, nabi Muhammad SAW punya otorita syafaat untuk orang yang patut disyafaati. Syafaat itu semacam usulan kepada Tuhan agar si Fulan diampuni, karena berbagai pertimbangan. Misalnya pernah sedekah ikhlas kepada anak yatim kelaparan, padahal dirinya juga kelaparan. Atau aktif membaca shalawat kepada nabi secara khusyu' dan istiqamah, tanpa musik, tanpa cengengesan.
Abu Thalib, paman Nabi yang meninggal dunia sebelum bersyahadat secara ikrar, dihukumi belum beriman, masih kafir. Tetap disiksa di akhirat nanti. Ya, tapi tidak berat dan api nerakapun tak panas baginya, karena ada syafaat khusus dari keponakannya, Muhammad SAW. Begitu riwayat bertutur.
Abu Thalib sangat berjasa membesarkan dan melindungi nabi sejak masih kecil, selalu pasang badan demi keselamatan nabi kala berdakwah. Jika itu benar, maka itulah bukti adanya syafaat. Wajar bagi Tuhan mengabulkan permintaan kekasih-Nya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




