Rabu, 21 November 2018 09:55

Tanya-Jawab Islam: Menasihati Teman untuk Tidak Dijadikan yang Kedua, Salahkah?

Sabtu, 03 November 2018 10:33 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: Ahmad
Tanya-Jawab Islam: Menasihati Teman untuk Tidak Dijadikan yang Kedua, Salahkah?
Dr. KH. Imam Ghazali Said.

>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<<

Pertanyaan:

Assalamualaikum ustad. Saya punya kawan dan kawan saya itu ingin menikah dengan suami orang. Dia minta saran dari saya. Saya sarankan, kalo kamu mau menikah dengan dia, kamu suruh ceraikan istri pertama. Kalau tidak mau, gak usah nikah sama dia. Tujuan saya memberi saran seperti itu supaya kawan saya tidak dipermainkan lelaki itu. Pertanyaan saya, apakah saya berdosa memberi saran seperti itu? Tapi sampai sekarang lelaki itu tidak menceraikan istrinya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ima dari Pekanbaru.

Jawaban:

Hukum Islam (fikih) memang tidak melarang laki-laki untuk menikah kembali dengan dengan wanita yang kedua, ketiga, dan keempat walaupun tanpa seizin istri pertama. Saya kira ini sudah lazim diketahui oleh masyarakat umum baik yang mendalami ilmu agama atau pun tidak. Konsep kehidupan seperti ini (menikah lagi tanpa diketahui istri pertama) tidak banyak terjadi di negara kita Indonesia. Ini banyak terjadi di negara-negara timur tengah, di saat suami mampu secara finansial biasanya langsung menikah lagi untuk yang kesekian kalinya.

Budaya timur kita sepertinya belum bisa menerima (dan tidak bisa menerima) cara pernikahan semacam ini, walaupun mereka juga tidak mengingkari hukum diperbolehkan poligami bagi laki-laki. Saya kira tidak ada yang mengingkari firman Allah yang berbunyi :

“dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”.(Qs. Al-Nisa’:03)

Semua percaya dengan ayat di atas itu pasti benar dan boleh dilakukan oleh setiap laki-laki. Namun, orang timur seperti kita biasanya masih melihat dari tujuan pernikahan itu apa, apa benar sakinah, mawaddah, wa rahmah itu akan tercapai dengan pernikahan-pernikahan selanjutnya, terutama pernikahan pertama. Maka firman Allah pada surat al-Rum ayat 21 perlu juga diperhatikan.

“dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”. (Qs. Al-Rum:21)

Proses izin dari istri pertama memang tidak diwajibkan bagi laki-laki yang ingin menikah lagi alias berpoligami. Tapi pertanyaannya, apakah sikap menikah lagi tanpa memberi kabar kepada istri pertama masih bisa memberikan tujuan pernikahan “sakinah, mawaddah wa rahmah” bagi pernikahannya dengan istri pertama? Maka, jika tujuan pernikahan ini tidak bisa direalisasikan kecuali dengan izin dan memberikan kabar, maka memberi tahu dan izin menjadi sebuah keharusan.

Kata “adil” pada ayat di atas memiliki arti juga suami mampu merealisasikan “sakinah mawaddah wa rahmah” pada pernikahan pertama dan juga pernikahan-pernikahan selanjutnya. Biasanya, pernikahan pertama menjadi diabaikan dan hanya peduli dengan pernikahan kedua ketiga dan selanjutnya. Dan ini tidak dibenarkan di dalam agama.

Nasehat yang Ibu sampaikan kepada kawan Ibu itu benar dan tidak berdosa. Artinya memberikan sikap hati-hati agar jangan sampai pernikahannya itu hanya dibuat main-main saja oleh laki-laki tersebut. Sebenarnya ada nasehat yang lebih tepat untuk disampaikan kepada kawan Ibu, yaitu “Apakah istri pertamanya sudah menyetujuinya?” bukan meminta laki-laki itu untuk menceraikan istri pertamanya.

Maka, nasehat Ibu itu bukan merupakan dosa. Bisa jadi yang Ibu sampaikan adalah sikap waspada agar tidak terjadi kekecewaan di kemudian hari. Pengalaman hidup orang lain, tetangga atau masyarakat umum perlu juga menjadi cermin kehidupan sehingga tidak jatuh pada lubang yang sama, pada masalah yang sama. Semoga Allah melindungi Ibu dan kawan Ibu semoga diberikan jalan keluar terbaik dalam kehidupannya. Amin. Wallahu a’lam. 

Rabu, 14 November 2018 00:10 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*SUASANA khusuk menyelimuti Jumat malam 9 November 2018 di lorong-lorong kampung, di ruas-ruas musholla, di beranda-beranda langgar, di ruang-ruang masjid, surau ataupun gardu desa. Rakyat membaca doa dengan selingan renungan tent...
Senin, 19 November 2018 11:17 WIB
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Waja’alnaa allayla waalnnahaara aayatayni famahawnaa aayata allayli waja’alnaa aayata alnnahaari mubshiratan litabtaghuu fadhlan min rabbikum walita’lamuu ‘adada alssiniina waalhisaaba...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Selasa, 06 November 2018 22:28 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - Dua tahun terakhir Kabupaten Madiun mendapatkan penghargaan Anugerah Wisata Tingkat Provinsi Jawa Timur. Pertama anugerah wisata buatan terbaik provinsi diraih Taman Wisata Madiun Umbul Square tahun 2017, menyusul kemudian ...