Dandi Romadhoni saat beraksi mengoperasikan perahu tambangnya.
Dandi berkeinginan untuk tidak menjadi bagian dari ribuan siswa yang putus sekolah di Kabupaten Bojonegoro. Jumlah siswa putus sekolah di Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2016-2017 yang diterima Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bojonegoro, masih tergolong tinggi.
Sesuai data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti Dinas Catatan Sipil dan Kependudukan, BPS, PKK, dan Dapodik (data pokok pendidikan) di Kabupaten Bojonegoro ada sekitar 42.000 anak baik tingkat SD hingga SMA sederajat putus sekolah.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Bojonegoro sekarang sedang memaksimalkan program penanggulangan anak putus sekolah. Sedikitnya ada tiga program dari Pemkab setempat menindaklanjuti anak-anak putus sekolah. Diantaranya program ayo sekolah, anti droup out, dan peningkatan kualitas pendidikan. Pemkab juga memberikan beasiswa bagi siswa yang tidak mampu seniai Rp 2 juta pertahun.
Kepala Bidang Pendidikan SMP, Disdik Bojonegoro, Pudji Widodo, mengatakan, dari data tersebut, jumlah anak putus sekolah tingkat SD/MI sebanyak 10.000 anak, SMP/Mts sebanyak 11.000 anak, dan tingkat SMA/MA sebanyak 21.000 anak atau total 42.000 anak. Dia menyatakan, jumlah tersebut belum benar-benar dipastikan kebenarannya. Saat ini pihaknya mengaku sedang melakukan validasi data tersebut.
Pada tahun 2017 ini Pemkab Bojonegoro juga menyiapkan Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan untuk beasiswa agi pelajar khususnya ditingkat SMA sederajat. Total anggarannya yang disiapkan sebesar Rp48 miliar.
Jumlah tersebut menurun jika dibanding tahun 2016 lalu sebesar Rp90 miliar lebih. Pemkab Bojonegoro mengurangi jumlah DAK pendidikan karena adanya efisiensi anggaran 40 persen akibat penurunan dana bagi hasil minyak dan gas bumi (DBH Migas).
Selain efesiensi anggaran, penurunan jumlah DAK Pendidikan itu juga sesuai dengan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tentang pembeda antara siswa miskin dan kaya. Sebelumnya semua siswa tingkat SMA di Bojonegoro mendapat beasiswa sebesar Rp 2 juta pertahun. Hasil evaluasi, tahun ini ada klasifikasi siswa miskin dan kaya yang akan menerima beasiswa dengan jumlah yang berbeda.
"Tahun ini ada klasifikasi anak dari keluarga mampu dan tidak mampu," ujar Kepala Dinas Pendidikan Bojonegorto, Hanafi.
Sebelumnya, semua anak tingkat SMA/SMA/MA kelas 2 di Bojonegoro mendapatkan bantuan sebesar Rp2 juta per tahun. Sekarang hanya siswa dari keluarga tidak mampu saja yang mendapatkan Rp2 juta. Sementara siswa dari keluarga mampu mendapatkan bantuan sesuai cost pendidikan.
Perhitungan bantuan yang diberikan untuk siswa dari keluarga mampu dihitung melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) masing-masing anak sebesar Rp1.400.000 dikurangi Cost Pendidikan sebesar Rp 2.700.000.
"Jadi, masing-masing siswa hanya mendapat Rp1.300.000 per tahun," imbuhnya.
Dandi, si bocah yang menjadi driver perahu penyeberangan di Sungai Bengawan Solo. (nur/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




