Rabu, 17 Oktober 2018 04:48

Ternyata di Pakistan Juga Ada Musik Patrol Sahur

Minggu, 03 Juni 2018 22:00 WIB
Editor: Choirul
Wartawan: -
Ternyata di Pakistan Juga Ada Musik Patrol Sahur
Gambar ini diambil pada 30 Mei 2018. Tampak seorang pria Pakistan Lal Hussain (C), 66, tengah menabuh drumnya untuk membangunkan warga agar makan sahur di Bani, daerah pemukiman tua, di Rawalpindi. (AFP)

RAWALPINDI, BANGSAONLINE.com – Tradisi patrol untuk membangunkan makan sahur juga ada di Pakistan. Hanya saja, musik patrol ini dimainkan satu orang, dengan menggunakan tambur.

“Bangun dan sahurlah!” teriak Lal Hussain, salah satu pemusik patrol di Bani, daerah pemukiman tua, di Rawalpindi.

Dia berteriak disertai dengan irama tambur yang asyik. Hussain setia menapaki jalanan setiap Ramadhan selama 35 tahun terakhir, berjalan dengan tambur sejauh bermil-mil melewati jalan-jalan sepi dan gang-gang sempit, di daerah tua kota.

Ibu dan anak mengintip melalui jendela untuk melihat sekilas pemusik patrol saat dia lewat. Sementara pria-pria menyapanya di jalan-jalan menawarkan sejumlah kecil uang tunai sebagai ucapan terima kasih atas pelayanannya.

Namun tradisi yang sudah berabad-abad ini semakin jarang di Pakistan. Sekarang, orang hampir secara universal bergantung pada alarm telepon, jam digital, atau pengumuman publik pada pengeras suara untuk membangunkan dari tidur.

Setiap tahun semakin sedikit pemusik patrol menyebar di kota-kota dan desa-desa di seluruh Pakistan selama Ramadan untuk membangunkan sesama Muslim untuk sahur. "Hampir selusin drummer yang tersisa di Rawalpindi," kata Hussain kepada AFP saat dia berkeliling melalui kota sekitar lima juta orang.

“Dulu ada pemukul drum di setiap jalan, tetapi sekarang banyak dari mereka telah pergi. Generasi yang lebih muda telah mengadopsi profesi lain.”

Bahkan ketika sesama drummer telah mengundurkan diri atau meninggalkan tradisi, pria berusia 66 tahun itu tetap tegar. Dia saat ini juga melawan hepatitis C dan bertekad untuk menjaga latihan agar tetap hidup selama mungkin. Dedikasinya telah membuatnya disayangi oleh penduduk.

"Ini menghidupkan kembali (kenangan) leluhur kita, budaya kita, jadi kita menikmatinya dengan cara yang sama," kata Yasir Butt.

“Ada orang yang mengatakan kepada saya untuk terus memukul drum karena mereka tidak mempercayai ponsel mereka,” katanya.

Sumber: arabnews.com
Suparto Wijoyo
Kamis, 11 Oktober 2018 13:39 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*DUKA menggumpalkan kisah sekaligus narasi cerita yang bersambung membalutkan tragedi lingkungan dan kemanusiaan yang tiada terperikan. Beribu-ribu orang yang menjadi korban gempa di Palu maupun Donggala menyayatkan perihnya l...
Selasa, 11 September 2018 13:55 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   ‘Asaa rabbukum an yarhamakum wa-in ‘udtum ‘udnaa waja’alnaa jahannama lilkaafiriina hashiiraan (8).Cukup jelas pesan ayat studi ini, bahwa Allah SWT pasti menyayangi hamba-Nya yang mau be...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Sabtu, 29 September 2018 09:57 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Kamis, 04 Oktober 2018 13:39 WIB
PACITAN, BANGSAONLINE.com - Gua Jenggung, begitulah nama yang diberikan kepada gua yang baru ditemukan di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan.Saat melihat keindahan stalaktit maupun stalagmit di dalam Gua Jenggung, laksana berlibur ke T...