Karya desain dan medali yang berhasil disabet. foto: istimewa
Meski andal dalam bidang pencak silat, Pipit justru mengambil jurusan yang sangat bertolak belakang dari hal tersebut. Pilihannya ini didorong dari ketertarikannya akan dunia fesyen desain, sejak SMP ia mengaku sempat ingin melanjutkan di SMK dengan jurusan tata busana.
“Aku pilih di pendidikan Tata Busana itu karena di samping aku bisa jadi pengajar, aku juga punya keterampilan di bidang tata busana yang bisa aku pakai untuk buka lapangan kerja sendiri. Kalau untuk serius keolahraga, aku hanya menjadikan silat ini hobiku aja dan aku juga gak terlalu suka olahraga jenis lain. Voli atau renang gitu saya nggak suka,” ucap Pipit sambil tersenyum.
Ketika ditanya mengenai stereotipe perempuan urakan di masyarakatnya karena ikut kegiatan pencak silat, Pipit mengaku tidak begitu peduli. Ia berpendapat bahwa yang penting adalah seperti seperti apa kita menjalaninya dan ia sendiri mampu membuktikan bahwa ia cukup berprestasi di bidang itu.
Mahasiswa yang gemar belajar desain seputar fesyen ini menegaskan bahwa beladiri penting bagi perempuan untuk melindungi diri dari tindak kekerasan. Apalagi saat ini, tegasnya, banyak kasus pelecehan seksual, begal dan penganiayaan yang cenderung terjadi pada perempuan.
“Beladiri itu penting untuk menjaga diri. Karena banyak sekali sekarang kejahatan yang berkaitan dengan perempuan seperti kekerasan, dan perampokan. Perempuan memang identik dengan kecantikan, Nmaun perempuan juga dituntut untuk berani melawan hal hal yang menyimpang dan membahayakan dirinya,” jelas mahasiswa aktif Unesa tersebuts. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




