Tafsir Al-Nahl 125: Mengajak Dialog Itu Perintah Agama

Tafsir Al-Nahl 125: Mengajak Dialog Itu Perintah Agama

Cara ini diperuntukkan bagi audien kelas menengah ke atas, seperti para pendeta, para ilmuwan, ahli agama dan lain-lain. Kenapa disisipkan pesan cara terbaik (al-laty hiy ahsan) di sini:

Pertama, dalam berdebat, berdiskusi, berdialog biasa ada emosi, bersitegang mempertahankan pendapat masing-masing. Ketegangan ini berpotensi merusak hubungan antar peserta, di samping gagalnya tujuan dialog.

Debat itu hanyalah cara untuk memahamkan nonmuslim kepada ajaran islam secara baik dan utuh. Harapannya, mereka mengerti, lalu menerima islam. Jika tidak diatur cara terbaik, maka ngotot-ngototan, gontok-gontokan terjadi dan tujuan pokoknya malah tidak tercapai.

Kedua, pentingnya menjaga hubungan kemanusiaan. Rugi banyak jika mereka sudah tidak menerima islam, sementara hubungan kemanusiaan, pertemanan juga berantakan. Meski belum menerima waktu itu, tapi bila hubungan kemanusiaan tetap terjaga baik, maka masih ada harapan berdialog kembali di lain waktu.

Ketiga, sebagai peringatan bagi para da'i, bahwa tugas utama mereka hanyalah menyampaikan sebaik mungkin. Tidak perlu ngotot-ngotot dalam arti bengis dan memaksa, galak dan merasa benar sendiri. Tetap bijak dan sopan demi menarik simpati di meja dialog. Jangan sampai, para juru dakwah lebih radikal dibanding Tuhan yang punya agama.

Keempat, penutup ayat mengisyaratkan, bahwa di tangan Allah SWT adalah segalanya. Mau memberi hidayah atau tidak. Tapi, dalam penyebutan mereka yang sesat didahulukan (man dlalla 'an sabilih), baru ditutur mereka yang menadapat hidayah (wa huw a'lam bi al-muhtadin). Sebagai pelajaran agar para da'i tidakkecewa, bahwa mereka yang menolak islam itu lebih banyak dan lebih getol.    

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO