Surokim
Perang terbuka antar kiai kampung beda dukungan di Pilgub itu akan merugikan NU sebagai jamiyyah yang selama ini bisa menjaga dan steril politik dukungan di level bawah. "Saya berharap seyogyanya para kiai struktural bisa menahan diri untuk tidak terlibat dan vulgar dalam konflik dukungan praktis jika ingin menjaga marwahnya sebagai simbol kultural masyarakat," imbuhnya.
Menurutnya, polarisasi konflik Muktamar Jombang tak dapat dipungkiri masih berimbas pada Pilgub Jatim mendatang. Bahkan kalau para kiai tidak berhati-hati bisa terjerumus dan dimainkan pihak lain.
"Jika mengacu kepada Pilgub DKI Jakarta, para politisi dan pengusaha akan ikut membaca peluang dan ikut memanas-manasi situasi bisa memainkan pion lebih kuat karena konflik yang akhirnya merugikan NU sendiri," tegas Surokim.
Pendapat berbeda disampaikan penggiat media sosial, Permadi Arya. Pria yang di dunia maya dikenal dengan nama Ustad Abu Janda Al Boliwudi itu yakin kompetisi di Pilgub Jatim tidak akan setajam Pilgub DKI. Terlebih persaingannya lebih kepada Gus Ipul dan Khofifah yang sama-sama kader NU. Apalagi, di Jatim ini terkenal warga NU yang paling toleran. Karena itu, sesama kader NU tidak akan saling chaos. Kalau beda pendapat, itu suatu hal yang lumrah.
“Saya yakin Pilgub Jatim aman, karena di sini NU mayoritas. Yang bersaing pun sesama kader NU, tak mungkin saling merusak. Justru prediksi saya yang perlu mendapat perhatian khusu itu adalah Pilgub Jabar,” pungkas Abu Janda. (mdr)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




