Sebuah poster membentang sebagai bentuk penolakan penggusuran makam.
Yang membuat warga geram, para perangkat justru tidak berpihak kepada mereka. Sebelum aksi protes, beberapa orang aparat desa, RT dan RW bertemu dengan pengembang di sebuah rumah makan di Desa Gringging, Kecamatan Grogol, Kabupaten Kediri. Pembahan dalam pertemuan tersebut adalah solusi dari penolakan penggusuran makam. Diantaranya, akan dipindahkan ke lahan lainnya.
Lahan calon pengganti yang disebut ini terletak di sebelahnya, yang sudah menjadi hak milik pengembang. Tetapi dalam pertemuan tersebut tidak menemui titik temu, karena ada yang memprotes.
Budiman, aktivis LSM Suara Hati Nurani (SUAR) Kediri, meminta pemerintah memperjelas program ini terlebih dahulu sebelum melaksanakan pembebasan lahan. Menurutnya, masyarakat akan mendukung setiap program pemerintah sepanjang itu jelas. Terlebih proyek bandara, karena dampak positifnya (multy efeks) akan kembali ke warga.
“Bagaimana luasannya lahan yang dibutuhkan, dasar hukumnya kami belum tahu. Blue print atau gambarnya juga belum jelas. Sehingga kami belum yakin terhadap program bandara ini,” kata Budiman, tokoh pemuda Dusun Pojok.
Untuk diketahui, selama satu tahun terakhir terjadi pembelian tanah secara besar besaran di Desa Bulusari dan beberapa desa di sekitarnya. Belakangan terbongkar bahwa aksi borong tanah ini kabarnya untuk kebutuhan pembangunan bandara. Di Dusun Pojok saja, sebanyak 11 rumah warga telah terjual karena disebut masuk kawasan proyek landasan pesawat terbang ini.
Salah satu rumah yang terjual adalah milik Budiono, mantan Kepala Desa Bulusari. Nilai jual bangunan dan tanah cukup fantastik, jauh di atas harga pasar sebelumnya. Dua bangunan rumah milik Budiono dihargai hingga Rp 8,2 miliar.
Pembelian tanah ini dilakukan oleh perusahaan swasta yang berdomisili di Kediri. Mereka membeli bangunan rumah dan lahan sawah yang dianggap masuk dalam peta lahan untuk dibebaskan. Beberapa tempat dijumpati tapal batas berwarna kuning yang disebut patok kawasan bandara.
Terkait hal ini, Pemerintah Kabupaten Kediri akan mencarikan solusinya. Di antaranya menyediakan lahan pengganti untuk makam yang akan dibebaskan.
"Info yang kami terima, sebenarnya bukan penggusuran tapi relokasi makam, karena rencana sudah disiapkan lahan pengganti untuk makam. Beberapa pihak terkait juga sudah melakukan sosialisasi mengenai rencana pembangunan bandara," ungkap Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Kediri Krisna Setiawan. (rif/rus)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




