Mushaf Alquran Tertua di Dunia, Tanpa Pembeda Titik dan Penanda Harakat

Mushaf Alquran Tertua di Dunia, Tanpa Pembeda Titik dan Penanda Harakat Ilustrasi: Alquran tertua di dunia. foto: Fox News

Memang, Ad Duali tidak serta merta merasa percaya diri melaksanakan amanat Ali. Ia khawatir, ide-idenya termasuk dalam kategori bidah dhalalah. Sebuah cara yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW dan berdampak pada kesesatan.

Al A'zami dalam The History of the Quranic Text: From Revelation to Compilation (2003) menceritakan, akibat kekeliruan dalam membaca yang ditemui langsung di lapangan itulah akhirnya Ad Duali kian yakin pentingnya merumuskan rambu-rambu dalam bahasa Arab.

"Ad Duali melaksanakan tugasnya dengan ikhlas, yang akhirnya dia menetapkan empat tanda diakritikal yang diletakkan pada ujung huruf tiap kata," tulis Al A'zami.

Pertama-tama, Ad Duali merumuskan tanda titik di atas huruf yang dimaknai amanat membaca fatah 'a', satu titik di bawah huruf dibaca 'i' atau kasrah, dan satu titik di sebelah kiri huruf sebagai penanda 'u' disebut damah. Begitu juga tanwin, Ad Duali menambah titik tersebut menjadi dua buah.

Titik-titik itu dicetak Ad Duali dengan warna merah agar bisa dibedakan dengan tulisan Arabnya yang menggunakan tinta hitam.

"Pada zaman pemerintahan Muawiyah, dia menerima perintah untuk melaksanakan sistem tanda titik ke dalam naskah mushaf, yang kemungkinan dapat terselesaikan pada 50 H," tulis Al A'zami masih dalam buku yang sama.

Pada periode berikutnya, kerangka baca terobosan Ad Duali ini dikembangkan murid-muridnya. Di antaranya, Yahya ibn Ya'mar, Nasr ibn Ashim Al Laithi, Maimun Al Aqran, hingga Khalil ibn Ahmad Al Fraheedi.

Titik dalam naskah klasik

Ad Dani, masih dalam Al Muhkam fi Naqth Al Mashahif mengatakan, keberadaan titik dan harakat memang penting seiring meningkatnya tingkat kerancuan dialek Arab di tengah banyaknya jenis gaya perbincangan yang berlaku.

Keprofanan ini, ditakutkan bisa mereduksi makna jika tidak segera diberikan rambu-rambu secara khusus.

Pun Al A'zami, ia menyebut bahwa tanda titik sejatinya bukan hal baru dalam beberapa dialek klasik yang hidup dalam peradaban Arab. Dalam bukunya, Al A'zami menunjukkan tiga bukti klasik tentang adanya pengadopsian tanda serupa titik melalui peninggalan-peninggalan masa lampau.

"Pertama, dalam batu nisan Raqush. Sebuah inkripsi Arab sebelum Islam pada tahun 267. Di sana terdapat tanda titik di atas huruf dhal, ra, dan shin," tulis dia.

Yang kedua, terdapat dalam sebuah inskripsi yang kemungkinan dibuat pada masa pra-Islam. Peninggalan yang berada di Sakaka, Arab Utara itu ditulis dalam skrip yang agak aneh.

Al A'zami mengatakan, terdapat semacam kombinasi karakter antara Nabatean dan Arab. Teknisnya dengan memuat tanda titik yang menggabung huruf Arab 'nun', 'ba', dan 'ta'.

"Ketiga, dokumentasi dalam dua bahasa di atas kertas papyrus tahun 22 Hijriah yang disimpan di Osterreuchische Nationalbibliothek di Vienna," tulis Al A'zami. (sbh/metronews,com)

Sumber: metronews.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'H Muhammad Faiz Abdul Rozzaq, Penulis Kaligrafi Kiswah Ka'bah Asal Pasuruan':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO