Tafsir Al-Nahl 116-117: Seni, antara Media Dakwah dan Mata Pencaharian

Tafsir Al-Nahl 116-117: Seni, antara Media Dakwah dan Mata Pencaharian Ilustrasi

Seperti tradisi para tetua adat dan dukun zaman jahiliah, sekadar unta melahirkan saja ada maknanya. Ya, karena sang dukun punya kepentingan. Makin banyak sesaji kepada Berhala, berarti makin banyak rejeki bagi para dukun. Semakin pandai memaknai, semakin sakral jadinya, makin diyakini dan makin menguntungkan. Barang siapa yang mengkritik pemaknaan ini, bisa diancam kualat dan terkutuk, atau dianggap bodoh dan tidak mengerti makna simbol.

Semacam tembang Ilir-ilir, bagi kanjeng Sunan itu tembang pangiling, agar manungso ndhang ngibadah, mumpung masih seger kuwarasan, walau berat-berat sedikit, tetaplah ngibadah. Tapi tidak begitu bagi seniman sekarang, semuanya dimaknai secara detail, bahkan kata per kata sesuai angan-angannya.

Bisa jadi, pemaknaan sang seniman melampaui ide dasar sang pemilik tembang itu sendiri. Per kata menjadi bahan elaborasi, menjadi judul manggung dan pentas, mengalahkan pola tafsir kitab suci. Semua itu sah sebagai kreasi, meski othak-athik mathuk. Dan, jangan sekali-sekali dikritik, karena anda akan dicap sebagai orang yang tidak faham filosufi ukoro Jowo.

Wali dulu, seni hanyalah piranti dakwah dan tidak lebih. Begitu materi sudah masuk, seni segera ditinggalkan. Meski pernah ndalang, tapi bukan dalang. Meski pernah menggubah tembang, tapi bukan musisi. Makanya, tetap berjuluk Wali, kanjeng Sunan, bukan seniman, bukan pula budayawan. Maksudnya, kewaliannya lebih dominan ketimbang ilmu medianya.

Tidak sama dengan seniman sekarang, tembang gubahan wali dulu menjadi mata pencaharian atas nama dakwah via seni. Ya, halal-halal saja. Gaya hidup seniman sekarang beraroma selebritas dan aktivitasnya lebih pada profesi. Makanya, pentas terus dan terus mengemas pementasannya sedemikian kreatif demi kelangsungan hidup. Mudah-mudahan seni tetap sebagai media dan bukan tujuan. Berbahagialah mereka yang memanfaatkan seni sebagai media ibadah dan celakalah mereka yang menjadikan seni sebagai media maksiat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO