Massa HMI Malang Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Halaman Balai Kota Malang, Jumat (13/1). foto: Merdeka.com
MALANG, BANGSAONLINE.com - Massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Malang Raya melakukan aksi lempar koin recehan untuk Kabinet Joko Widodo-Jusuf Kalla. Aksi tersebut sebagai bentuk simbol bahwa rakyat melarat karena diperas lewat kebijakan.
HMI menyebut harga sembako semakin melambung, disusul tarif dasar listrik yang mencekik rakyat. Masyarakat akan dilumpuhkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah.
BACA JUGA:
- Per Hari Ini, Harga Pertamax Turbo Naik, Pertamina Dex Turun, Inilah Daftar Harganya
- Polrestabes Surabaya Bongkar Sindikat STNK Aspal, Lima Tersangka Ditangkap
- Kabar Baik! Inilah Update Tarif Listrik PLN per Bulan Mei 2026
- Heboh Isu Kenaikan Harga BBM per 1 April, Pertamina Tegaskan Belum Ada Pengumuman Resmi
"Marilah kita sumbangkan uang recehan untuk Jokowi, biar tahu bahwa rakyat semakin miskin," kata Aharis Nagara, koordinator aksi saat orasi di Halaman Balai Kota Malang, dilansir Merdeka.com, Jumat (13/1).
Saat itu pula uang recehan berterbangan ke depan para demonstran. Beberapa uang koin menggelinding ke sana-sini. Mungkin karena aksi bersifat spontan, tidak banyak uang yang terkumpul.
"Inilah perhatian kita kepada masyarakat. Bahwa pemerintah telah dholim terhadap rakyatnya," tegas orator yang lain.
Massa juga sempat terlibat aksi dorong saat berniat masuk ke Gedung DPRD Kota Malang, tetapi tidak lama bisa ditenangkan. Mereka pun kembali melanjutkan orasi-orasinya dan aksi teatrikal.
Aksi teatrikal tersebut menggambarkan rakyat jelata di antaranya para petani, buruh dan mahasiswa yang terikat tangan-tangan mereka. Mereka membawa beban mahalnya harga BBM, listrik dan aneka kebutuhan pokok.
Mereka dihajar oleh penguasa, kaum pemodal dan politisi busuk yang mengambil untung. Teatrikal mereka diakhiri saat dengan bersatunya mahasiswa dan rakyat untuk melawat kebijakan pemerintah.
"Maka kami akan bersatu dengan kekuatan-kekuatan rakyat," kata salah seorang pemeran yang mewakili rakyat tertindas.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




