PT. Pupuk Indonesia Luncurkan NPK Phonska Plus, Ada Kandungan Zink

PT. Pupuk Indonesia Luncurkan NPK Phonska Plus, Ada Kandungan Zink Dirut PT. PG Nugroho Christijanto bersama jajaran direksi saat launching NPK Phonska Plus. foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE

Penelitian Tanaman Pertanian (BPTP), uji aplikasi ini membandingkan penggunaan NPK Phonska Plus (NPKS+Zn) dengan NPK Phonska biasa (NPKS, tanpa Zink).

Uji aplikasi dilakukan dengan perlakuan dan dosis pemupukan yang sama pada komoditas padi, yaitu menggunakan formulasi 5:3:2 atau 500 kg pupuk organik Petroganik, 300 kg NPK Phonska Plus, dan 200 kg Urea untuk per hektar sawah.

“Dari hasil uji aplikasi ini, NPK Phonska Plus terbukti mampu meningkatkan panen rata-rata 0,57 ton per hektar gabah kering panen atau 9 persen lebih besar jika dibandingkan dengan padi yang menggunakan pupuk NPK Phonska biasa tanpa Zink,” terang Nugroho Christijanto.

Sedangkan pada tanaman jagung, uji aplikasi NPK Phonska Plus dilakukan di Jember, Jawa Timur, mampu meningkatkan hasil panen 8 persen atau 0,68 ton per hektar lebih besar dibandingkan dengan NPK Phonska (NPKS) biasa tanpa Zink.

Selain uji aplikasi, PG juga melakukan demonstration plot (demplot) padi sebanyak 772 demplot di 95 kabupaten (8 provinsi) selama 2015 - 2016.

Tujuan demplot adalah untuk melihat konsistensi hasil uji aplikasi di lokasi lain dengan kondisi yang lebih beragam. Demplot membandingkan penggunaan pupuk NPK Phonska Plus (NPKS+Zn) dengan pemupukan kebiasaan petani setempat.

“Dari demplot ini kami dapatkan rata-rata peningkatan panen 0,85 ton gabah kering panen per hektar atau naik 12 persen jika dibanding hasil aplikasi pemupukan petani setempat,” jlentrehnya.

Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan defisiensi Zink pada lahan pertanian dan manusia, Nugroho Christijanto menyatakan bahwa pihaknya akan mulai gencar mengampanyekan pentingnya unsur hara mikro Zink, sekaligus menyosialisasikan manfaat dan keunggulan NPK Phonska Plus pada tahun ini.

“Kami akan sosialisasikan kepada petani mengenai pentingnya Zink pada lahan pertanian dan manusia. Sehingga kita tidak sekedar fokus pada unsur hara makro saja, tetapi unsur hara mikro juga penting untuk diperhatikan,” katanya.

Nugroho Christijanto optimis dengan kehadiran NPK Phonska Plus. Pertama, karena besarnya potensi pasar pupuk NPK di Indonesia dengan rata-rata pertumbuhan kebutuhan mencapai 6,53 persen per tahun. Kedua, dalam dua tahun terakhir, alokasi pupuk NPK bersubsidi hanya sebesar 2,5 juta ton (Permentan 130/2014 dan Permentan 60/2015).

Sedangkan kebutuhan pupuk NPK untuk sektor pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat mencapai 6,6 juta ton per tahun (data Asosiasi Perusahaan Pupuk Indonesia).

Adanya selisih atau gap inilah yang dimanfaatkan oleh PG dengan menyediakan pupuk NPK non-subsidi berkualitas dengan harga tetap terjangkau bagi petani.

Nugroho Christijanto mengaku percaya bahwa sebuah langkah besar berawal dari langkah kecil. Mengacu pada sejarah kesuksesan NPK Phonska pada tahun 2005, dimana saat itu kuantum pejualan hanya 200 ribu ton per tahun, kini kuantum penjualannya telah mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun.

“Berawal dari langkah kecil namun konsisten, kami optimis NPK Phonska Plus akan menjadi market leader untuk pasar pupuk NPK non-subsidi,” pungkas Nugroho Christijanto. (hud/rev)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO