Pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) Rachmawati Soekarnoputri berbicara serius dengan mantan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno.
Turut hadir dalam acara ini ekonom senior Fuad Bawazier dan Ichsanuddin Noorsy; tokoh politik Permadi, mantan Menkopolhukam Tedjo Edhy, dan MS Kaban; serta dari kalangan aktivis seperti Sri Bintang Pamungkas dan Syahganda Nainggolan.
Ahmad Dani yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan, konsolidasi gerakan tokoh nasionalis harus terus dilakukan follow up agar cita-cita luhur yang ditujud bisa terwujud segera. Follow up itu termasuk ikut bergabung dalam Aksi Bela Islam III yang akan dihelat pada 2 Desember nanti.
"Jadi Aksi 2 Desember nanti harus terus di-follow up. Jangan hanya retorika," tegas Dhani.
Calon wakil bupati Bekasi ini bahkan mengaku sudah menyiapkan ide khusus dalam menyongsong aksi yang diinisiatori Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI). Ide itu adalah menyertai Aksi 2 Desember dengan aksi 1 juta bambu runcing.
Dengan begitu, menurutnya, akan membuat Aksi Bela Islam III lebih tegas dan aparat keamanan tak akan berani macam-macam dengan rakyat.
"Saya ada ide 1 juta bambu runcing. Sayangnya, saya itu ikut dalam Pilkada. Jadi nggak bisa jadi panglima bambu runcing. Saya akan di depan, tawarkan kepada Kapolri atau siapa saja, silakan berhadapan dengan saya," demikian Dhani.
Di sisi lain, Ketua DPR RI Ade Komarudin, tak mau menanggapi apakah Aksi Bela Islam III oleh Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI, yang rencananya digelar pada 2 Desember mendatang. Ia mengaku bukan pada kapasitas untuk menyatakan apakah aksi tersebut perlu atau tidak.
"Itu tanya ke yang membuat acara, jangan tanya saya," kata Ade.
Namun yang terpenting, kata dia, perbedaan aspirasi harus dikelola dengan baik dan taat hukum. Negara tidak boleh membendung katup aspirasi dari manapun, selama itu bermanfaat untuk bangsa.
"Harus diberikan jalan kepada semua pihak untuk mengikuti hukum, dalam kasus apapun. Kebetulan sekarang pada kasus ini, kita ingin memenuhi rasa keadilan, tolong jaga negeri ini persatuan dan kesatuannnya," ujar pria yang akrab disapa Akom ini.
Akom berpesan, agar semua pihak, baik itu Pimpinan DPR, Eksekutif, Kepolisian, dan TNI, sama -sama menghadapi persoalan ini dengan kepala dingin dan demokratis. Mereka harus melayani masyarakat dengan sikap mengayomi untuk mencari titik temu.
"Hindari terjebak mempromosikan konflik, tonjolkan titik damai, bukan ketegangan dan konflik. Keanekaragaman dan perbedaan dibiarkan tumbuh dan dikelola dengan baik untuk menjadi kekuatan bangsa ini," ucap Politikus Golkar tersebut. (rmol/tic/mer/lan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




