Rabu, 22 Agustus 2018 14:02

Air Sungai dan Laut Tercemar, Penghasilan Petambak Sidoarjo Turun

Senin, 26 September 2016 12:04 WIB
Editor: nur s
Wartawan: faratiti
Air Sungai dan Laut Tercemar, Penghasilan Petambak Sidoarjo Turun
Misbakhun petambak Sidoarjo.

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com – Penghasilan petani tambak di Sidoarjo belakangan ini terus menurun. Ikan dan udang yang mereka tebar sering mati karena terjangkit virus. Kondisi itu terjadi di Dusun Kepetingan Ds. Sawohan Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo.

“Saya memiliki tambak luasnya 20 hektare yang merupakan warisan turun temurun. Saya memiliki 2 pegawai, biasanya yang di bibit yaitu ikan bandeng, udang fanami, udang windu. Penebarannya tergantung dari airnya, kalau tawar fanami, kalau asin udang windu,”ujar Misbakhun pada BANGSAONLINE yang ditemui di area tambak miliknya.

Kondisi yang dialami saat ini jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Untuk udang windu misalnya, untuk sekali panen dulu bisa menghasilkan 3,5 – 4 ton. Saat ini untuk sekali panen udang windu hanya menghasilkan 1 – 2 ton saja. Kondisi itu disebabkan air yang digunakan bertambak sudah banyak mengandung limbah. Penyebab lainnya, saat ini sudah banyak berbagai jenis penyakit yang menyerang udang.

“Dulu blm ada penyakit caranya semi intensif mulai ditebar 1 bulan dikasih pakan ½ bulan sudah selesai. Tahun kemarin, panen hanya menghasilkan 4 kwintal kalau normal hampir 2 ton. Kalau tambak normal, penghasilan petani tambak luar biasa banyaknya, udang 3-4 ton sekali panen hasilnya bisa Rp 400 juta,” ungkap Misbakhun.

Ditambahkan Misbakhun, kalau panen hasilnya besar tentu saja disambut senang, namun susah ketika hasilnya sedikit. Pengalaman yang pernah dilakukan, pernah menebar 120 tebaran secara bertahap pada lokasi yang berbeda.

“Mengenai omset, petani tambak untung-untungan, tetapi kami tidak pernah rugi setidaknya modal kembali dan cukup untuk biaya operasional. Modal Rp 15 juta dapat Rp. 100 juta operasionalnya hanya Rp 5 juta,”ungkap Misbakhun

“Ikan-ikan ini dijual ke pasar namun ada yang mengambil langsung juga kesini. Harganya beragam misalnya 1 kg ukuran 60 harganya 73 ribu rupiah, 1kg ukuran 150 harganya 46 ribu rupiah. Cepet laku windu harga di atas 100 hingga 200 ribu rupiah,”uangkap Misbakhun.

Ditambahkan Misbakhun, unutuk udang windu dan fanami, penebaran bibit 3 - 4 bulan, 2 minggu baru panen. Sedangkan bandeng 6-8 bulan, tergantung kebutuhan petani tambak, kadang ikan masih kecil sudah dipanen.

“Kami sebagai petani tambak berharap uluran dari pemerintah terutama penyuluhan atau pelatihan dibidang udang. Paling tidak campur tangan memberi masukan kepada petani tambak, bagaimana supaya udang tidak cepat mati,”ungkap Misbakhun.

Misbakhun sendiri mengaku pernah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan di Jawa Barat. Namun, pelatihan itu hanya bisa diterapkan selama dua tahun, selebihnya tidak bisa dipraktikan lagi, udang banyak yang mati.

“Kendala paling berat yang dialami petambak ialah tingginya pencemaran air kali maupun laut. Pencemaran bisa dari limbah rumah tangga atau pabrik. Akibat buruknya kualitas air, udang yang dihasilkan menjadi tidak sehat dan kualitasnya jelek,”pungkas Misbakhun. (faratiti d)

Sabtu, 11 Agustus 2018 16:43 WIB
Oleh: Ach. Taufiqil Aziz*Sekitar jam 17.00, pada 9 Agustus 2018, kami sekeluarga masih menonton stasiun televisi tentang pengumuman Cawapres Jokowi. Di televisi, beberapa stasiun dan pengamat sudah menganalisa bahwa Mahfud MD (MMD) yang akan menjadi ...
Kamis, 16 Agustus 2018 17:26 WIB
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   In ahsantum ahsantum li-anfusikum wa-in asa'tum falahaa fa-idzaa jaa-a wa’du al-aakhirati liyasuu-uu wujuuhakum waliyadkhuluu almasjida kamaa dakhaluuhu awwala marratin waliyutabbiruu maa ‘al...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Sabtu, 18 Agustus 2018 10:03 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Rabu, 08 Agustus 2018 10:41 WIB
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Asosiasi Wisata Gua Indonesia (Astaga) dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Unirow Tuban akhirnya memaparkan data pemetaan gua di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Data tersebut dikeluarkan setelah tim me...