Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo
"Mungkin kita terlalu persuasif," ujar Gatot singkat saat diwawancarai di Kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Kemenko Polhukam), di Jakarta Pusat.
Terlebih saat terjadi penyanderaan tiga WNI di Perairan Malaysia, Sabtu (9/7/2016), dari tujuh anak buah kapal (ABK) yang disergap, hanya tiga ABK asal Indonesia yang disandera.
"Saya dengar yang diambil adalah yang paspornya Indonesia. Ada apa ini, kenapa Indonesia. Itu juga saya pertanyakan," ucap Gatot.
"Makanya seperti yang saya katakan tadi. Mungkin kita terlalu persuasif. Atau mungkin ada alasan ekonomi atau alasan politik yang lain lagi. Ini harus kita analisis dengan benar," lanjut Gatot.
Gatot menambahkan yang dimaksud persuasif yakni tak adanya operasi militer dalam upaya pembebasan sandera sebelumnya. Dengan begitu para perompak memanfaatkan celah tersebut.
"Kalau ada operasi militer, nggak akan berani itu (perompak). Jadi saya tekankan bahwa sesuai dengan arahan Presiden, diutamakan keselamatan sandera tapi tidak menghendaki adanya pembayaran," papar Gatot.
Peristiwa panyanderaan ini terjadi untuk kali keempat dalam enam bulan terakhir. Sebelumnya, tujuh anak buah kapal (ABK) WNI lebih dulu disandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Sulu, Filipina Selatan. Penyanderaan itu terjadi pada Senin (20/6).
Selain membajak kapal, penyandera meminta tebusan sebesar Rp 60 miliar. Lalu, 10 WNI ABK kapal tunda Brahma 12 disandera kelompok Abu Sayyaf dan dibebaskan pada awal Mei 2016.
Selain itu, empat ABK kapal tunda Henry juga disandera kelompok yang sama. Keempatnya dibebaskan pada pertengahan Mei 2016.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




