BERKUALITAS: Syafa'at saat menunjukkan karyanya. foto: eky nurhadi/ BANGSAONLINE
"Dalam sehari hampir 150 orang lebih yang menserviskan speakernya," sambungnya.
Speaker produksinya itu berbagai jenis dan ukuran. Misalnya jenis tweeter, subwoofer dan middle. Harganya pun bervariasi, mulai yang berukuran 8 inci seharga Rp 250 ribu hingga yang ukuran 18 inci senilai Rp 1,5 juta. Sayangnya, speaker produksinya itu tidak ada mereknya, sehingga speaker hasil rakitannya itu biasa disebut "mik balen" (speaker dari Balen atau nama desanya).
"Di mana-mana terkenalnya ya begitu. Kalau saya kasih merek nanti malah kasihan sama pembelinya, karena otomatis harganya akan naik," ujarnya sambil bercanda.
Harga speaker produksi rumahan milik Syafa'at dengan yang dijual dipasaran tentu lebih murah. Terpautnya antara 200 hingga 400 ribu per buahnya. Namun, kualitas suaranya tidak kalah enak dengan yang dijual di pasaran. Ia
Selain pembelinya dari berbagai wilayah di Jatim dan Jateng, ia juga sering melayani pembelian dari wilayah luar jawa. Misalnya dari Kalimantan dan Sumatera. Selain itu, setiap bulan ia juga menyuplai hampir 500 buah speaker di salah satu pabrik di Surabaya. "Setiap hari terkadang bisa memproduksi 10 sampai 30 speaker. Kalau sebulan hampir 800 sampai 900 lebih," jelasnya.
Tentu, produksi sebanyak itu tidak ia kerjakan secara sendirian. Melainkan dibantu 11 karyawan, juga istrinya bernama Khoiriyah (32) dalam hal catat-mencatat pesanan dan ratusan orang yang menserviskan speaker.
Ia menambahkan, selama ini dia tidak mengalami kesulitan dalam mencari bahan baku speaker. Ia mengaku dengan mudah mendapatkan besi rosokan dari pasar loak Surabaya untuk diproses menjadi speaker. Sedangkan untuk kertas atau daun speaker ia disuplai dari tiga sales.
"Sebulan saya harus membayar barang dari tiga sales itu senilai Rp 75 juta. Belum lagi bayar karyawan dan kebutuhan lainnya," jelasnya.
Meski demikian, dalam sebulan ternyata omset dari usahanya itu hampir mencapai Rp 200 juta lebih. Sehingga dari usahanya itu, selama ini ia mampu membeli tanah dan membangun rumah mewah.
"Pekerjaan itu bisa ditiru, tetapi rizki tidak bisa ditiru," pungkasnya sambil bercanda ramah. (nur/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




