Ir. Moch. Samsul Arifien, MMA.
Samsul menjelaskan, varietas yang dikembangkan itu dalam rangka untuk peningkatan produktivitas per hektar. karena areal tebu di Jatim turun. “Tahun 2014 areal lahan tebu masih di angka sekitar 219 ribu hektar, kini berkurang 4.000 hektar atau tersisa 215 ribu hektar,” ungkap Samsul.
Tapi di tahun 2015, tidak banyak petani tebu yang beralih ke komoditi lain seperti padi dan jagung. “Jadi petani tebu masih banyak yang militan menanam tebu walaupun tahun lalu rugi cukup besar dan baru sekarang bisa merasakan untung,” ujar Samsul.
Selain varietas tebu NXI 4T hasil riset PTPN XI, Samsul menyatakan, Bangkalan dan Sampang hingga saat ini menggunakan bibit tebu Plantula (Budchips) yang merupakan teknologi pembibitan tebu diadopsi dari Columbia. "Bibit tebu tersebut juga terbukti unggul," kata Samsul.
Hasil produksi tebu Madura itu, masih kata Samsul, rendemennya (kadar gula dalam batang tebu untuk menentukan banyaknya gula yang dihasilkan) bagus dengan rata-rata mencapai 8 persen. "Bahkan, ada petani di Sampang wilayah Utara ada yang mampu menorehkan rendemen cukup tinggi sampai 9,85 persen," ujarnya dengan bangga.
Samsul menambahkan, tingginya rata-rata rendemen tebu di Madura diiringi oleh meningkatnya produksi gula yang dihasilkan. Dari catatan Dinas Perkebunan Jawa Timur, produksi tebu di Madura rata-rata mencapai 576 kwintal per hektar dengan keuntungan yang didapat petani mencapai Rp 6 juta sampai Rp10 juta.
"Rendemen juga mengalami kenaikan. Tahun lalu rata-rata mencapai 8,2 persen. Tahun ini rendemen rata-rata ditargetkan 8,5 persen,” pungkas dia. (sby7/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




