Ir. Moch. Samsul Arifien, MMA.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - PTPN XI berhasil menciptakan varietas bibit tebu toleran kekeringan yang mampu menghasilkan kadar gula tinggi. Varietas tebu toleran kekeringan ini setelah PTPN XI melakukan riset mengingat lahan kering dan kekurangan air menjadi permasalahan umum pertanian Indonesia.
Apalagi wilayah pantai utara Jawa Timur yang memiliki iklim cenderung kering dan pengairan pun sulit dilakukan, sehingga produktivitasnya rendah. Melihat masalah-masalah tersebut, PTPN XI akhirnya memutuskan untuk meneliti dan mengembangkan sehingga menghasilkan sebuah produk yang mampu bertahan hidup di sebuah lahan yang terletak di wilayah beriklim kering, sekalipun tidak mendapatkan pengairan secara teratur. Produk yang dimaksud adalah tebu produk rekayasa genetika (PRG).
BACA JUGA:
- Suarakan Konflik Lahan di Ijen, Ratusan Pekerja PTPN Geruduk Kantor Bupati Bondowoso
- Geledah Kantor PTPN XI di Surabaya, Kortas Tipikor Polri Amankan 109 Dokumen
- DPPTK Ngawi Boyong Perwakilan Pekerja Perusahaan Rokok untuk Ikuti Bimtek di Jember
- Tolak Perpanjangan Izin Penambangan PT EPAS, Warga Puncu Demo ke Kantor PTPN Ngrangkah Pawon
Selain Tebu Toleran Kekeringan, PTPN XI juga berhasil mendeteksi dini penyakit mosaik dengan teknologi protein rekombinan.
Head Of Research Affairs PTPN XI, Nurmala Darsono mengatakan tebu rekayasa genetika tersebut sudah terbukti meningkatkan hasil maksimal pada produksi sekaligus meningkatkan pendapatan para petani.
“Biasanya hanya menghasilkan tebu 54 juta ha/ tahunnya, namun kini bisa menghasilkan 65,4 juta ha/tahunnya,” ungkap Nurmala dalam sosialisasi produk bioteknologi kepada media di Surabaya belum lama ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir. Moch. Samsul Arifien, MMA. yang ditemui di kantornya, mengatakan tebu varietas baru yang dihasilkan PTPN XI layak didukung. “Karena varietas NXI 4T cocok untuk lahan kering dan mudah dibudidayakan. Kemudian produktivitasnya sesuai dengan yang kita inginkan yakni di atas 70 ton/hektar,” kata Samsul kepada BANGSAONLINE, Jumat (5/02).
Ke depan, kata Samsul, penataan varietas akan terus dilakukan. “Penataan varietas artinya penanaman dilakukan di masa awal, tengah dan akhir. Kebetulan petani banyak menggunakan varietas pada masa akhir saja,” jelas Samsul.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




