Sabtu, 15 Mei 2021 18:28

Mau Kaji Fiqih Waria, Eh... Ketua Pesantren Waria Sebut Kitab al-Hikam

Jumat, 05 Februari 2016 19:12 WIB
Mau Kaji Fiqih Waria, Eh... Ketua Pesantren Waria Sebut Kitab al-Hikam
Shinta Ratri. Foto: panjimas.com

YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Semakin lama, kelakukan kaum LGBT  (lesbian, gay, biseksual, dan transgender) semakin aneh. Shinta Ratri, Ketua Pondok Pesantren (Ponpes) Waria al-Fatah yang terletak di Notoyudan, Pringgokusuman, Gedongtengen, Yogyakarta, mengaku akan menyusun kitab fiqih khusus waria.

Padahal, sebagaiman diketahui, syariat Islam sangat mengecam perilaku waria, karena jelas menyimpang.

Mereka sendiri sebenarnya menyadari, bahwa kitab-kitab fiqih yang dipelajari di pesantren tidak akomodatif terhadap keberadaan mereka.

Shinta kemudian menyebut kitab Al-Hikam yang dirasa tidak membedakan gender. “Jadi kami mengkaji kitab Fikih yang tidak membedakan gender, misalnya kitab al-Hikam,” kata Shinta, Selasa (2/2/2016).

BACA JUGA : 

​Jutawan Gay Rebut Pacar Putrinya, untuk Dikawin

Tanya-Jawab Islam: ​Saya Gay, Ingin Sembuh, Ingin Nikah, Gimana Caranya?

Istri Cantik Dicekik, Berpindah Cinta ke Pasangan Gay

Kapolres Probolinggo Akui Oknum Polisi LGBT Viral di Medsos itu Anggotanya

Padahal, kitab Al-Hikam bukanlah kitab fiqih, melainkan kitab tasawuf yang ditulis oleh Syaikh Ibnu Athailah As Sakandari.

Sebagai satu-satunya pesantren waria, pesantren al-Fatah saat ini sedang mengumpulkan bahan untuk menyusun kitab Fikih yang nantinya bakal mereka namai kitab fiqih waria. “Semoga kitab fiqh waria itu bisa dipakai oleh waria muslim di seluruh dunia,” jelas Shinta.

Saat menyusun kitab Fikih waria, pihak pesantren mengaku akan meminta pertimbangan dari sejumlah ulama sepuh di Jawa. “Nanti ada sepuluh ulama yang akan kami mintai pendapat,” terangnya

Ditanya tentang pernikahan sesama laki-laki yang kini mulai banyak dilakukan oleh kaum homo Shinta menilai hanyalah mengundang sensasi masyarakat saja.

"Diam-diam dinikmati hubungan itu, tak perlu heboh-heboh semua orang harus tahu. Kami sendiri tidak antusias untuk menikah, tidak getol untuk pelegalan bentuk pernikahan, sudah cukup menjalin hubungan rumah tangga dengan komitmen dengan disaksikan keluarga, suadara, dan penduduk sekitar, bukan dengan pelegalan yang membuat heboh," tutur Shinta.

Shinta mengatakan, stigma negatif masyarakat terhadap keberadaan kaum waria memang masih ada. Menurutnya, masyarakat Indonesia saat ini masih tak bisa menganggap waria sebagai suatu jenis gender.

Akibatnya, kaum waria merasa kesusahan dalam hidupnya. Baik dalam hal pekerjaan, beribadah maupun dalam hal hubungan.

"Saya memang sengaja tanya kepada teman-teman waria, hasilnya seperti itu, kami tidak butuh pelegalan secara hukum, sudah cukup bermain aman, dengan menjalin hubungan rumah tangga dengan diketahui tetangga, pemerintah desa setempat," tutur Shinta.

Saat ini terdapat kurang lebih 223 waria yang ada di DIY di bawah lembaga advokasi waria Ikatan Waria Yogya (Iwayo).

Upaya-upaya pun terus dilakukan oleh kaum waria untuk mengadvokasi keberadaan gender ini dengan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat melalui kelembagaan.

Ia mengatakan, pernikahan semacam itu mengandung banyak risiko, dengan banyaknya masyarakat yang akan menolak hubungan sama jenis tersebut.

Ia mengatakan, harusnya pasangan sesama jenis itu dapat berfikir lebih jauh, dampak yang terjadi usai pernikahan.

"Entah tujuannya untuk apa saya engga ngerti. Harusnya dia berfikir lebih jauh, bahwasanya Indonesia belum bisa menerima hal-hal seperti itu. Hal itu hanya akan mengundang sensasi dan menimbulkan protes di kalangan masyarakat saja," tutur Shinta, Senin (12/10/2015).

Mantan Ketua Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo) ini mengatakan, ia dan rekan-rekan sesama waria tidak merasa antusias untuk menikah atau melegalkan hubungan keduanya.

"Kami harap stigma negatif itu bisa hilang, sehingga kami bisa hidup layaknya manusia sebagai mana mestinya. Kami bisa bekerja, kami bisa beribadah dengan tenang," katanya.

Pesantren waria di Yogyakarta semula didirikan Maryani. Pesantren ini sempat mandeg ketika Maryani meninggal. Shinta kemudian berinisiatif mengaktifkan kembali pesantren berkat dukungan waria asuhannya.

"Saat itu kami mulai kembali ingin lanjutkan pesantren, karena itu setelah bu Maryani meninggal kita sempat vakum," kata Shinta saat ditemui di Celenan, Kotagede Yogyakarta, Sabtu (26/04).

Shinta mengatakan dirinya memindahkan pesantren yang semula di Notoyudan, Ngampilan menjadi di Celenan berdasarkan kesepakatan bersama. Rumah dengan model rumah tradisional Jawa itu adalah rumah Shinta, sekilas tidak terlihat seperti pesantren. Meski lokasinya cukup sulit ditemukan karena harus menyusuri gang-gang sempit, namun tidak membuat anggota pesantren patah semangat untuk datang setiap pekan ke sana.

"Teman-teman rumahnya menyebar, tidak di sini, tapi kita fokuskan kegiatan di sini. Sebelumnya di sini juga sanggar seni waria, jadi sudah banyak juga yang tahu," urai Shinta.

Di lokasi baru ini, pada 18 April lalu, Shinta dan teman-temannya meresmikan kembali pesantren waria. Sebagai langkah awal, Shinta merekrut 20 anggota baru pesantren waria.

"Kita mengawali ini dengan merekrut anggota baru. Ada 20 waria yang mau bergabung, kalau anggota sebelumnya ada 22 waria," jelas Shinta yang sehari-hari berprofesi sebagai pengrajin.

Dia berharap pembukaan kembali pesantren waria ini bisa menjadi wadah bagi waria untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat kegiatan keagamaan.

Sumber: panjimas.com/tribunnews.com
Artis Greta Garbo Ajak Nikah ​Albert Einstein
Rabu, 12 Mei 2021 04:07 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan episode 30 mereview cerita Gus Dur tentang fisikawan Albert Eintein dan model cantik Greta Garbo. “Anekdot ini saya ambil dari buku berjudul Gus Dur hanya Kalah dengan Orang Madura,...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 15 Mei 2021 09:10 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kerusuhan 13 Mei 1998 terus diperingati oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Korban aksi anarkis itu sebagian memang etnis Tionghoa.Uniknya, mereka memperingati dengan menyajikan rujak pare dan sambal jombrang. Apa...
Kamis, 13 Mei 2021 19:51 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Jumat, 14 Mei 2021 10:11 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Won...