Tawan alias I Wayan Sumardana mengenakan tangan robot ciptaanya di bengkel miliknya.
Karena lie detector miliknya itu mempunyai tegangan 7,5 volt, maka ia menurunkan arus listriknya menjadi 5 volt agar alat tak kelebihan beban. Di PCB itu juga ditaruh semacam motor dan alat untuk pengubah tegangan dari DC ke AC.
Dari motor dan audio amplifier itulah kabel akan mengirimkan listrik agar bisa menggerakan gir untuk menaikkan atau menurunkan. Jadi pada dasarnya, lengan mesin ini hanya untuk menopang dan menahan tangan kiri tawan yang lumpuh.
Cip lie detector itu sendiri dipasangkan di semacam mahkota yang juga terdiri dari kabel dan kamera kecil di tengahnya. Setelah mahkota dipasangkan, kabel yang terdiri dari 8 unit ditempelkan di kepala Tawan.
"Kabel ini dari cip lie detector, ditaruh di kepala kanan, kiri dan tengah. Istilahnya empat bagian otak untuk memerintahkan, dua kabel cip itu untuk 1 kali fungsi seperti naik. Jadi ada 4 perintah saya bisa lakukan, kiri, kanan, maju dan mundur," katanya.
"Jadi saya berpikir dalam otak untuk berbohong, misalnya, ketika saya merokok dan berasap, maka di otak saya bilang tak berasap. Sensor langsung bekerja dan mengirimkan sinyalnya ke power amplfier, tessss mulai tangan bergerak ke atas. Jadi saya akan bilang rokok itu tidak berasap agar tangan bisa naik, setelah ketinggiannya cukup, saya berhenti berbohong," jelasnya.
Pada dasarnya dia juga tak mengerti mengapa hal tersebut bisa terjadi. Karena membuat sambungan antara PCB amplifier ke cip lie detector pun dia hanya mencarinya melalui Google di internet.
"Saya ketik saja cara kerja uji kebohongan, ada di caranya di sana. Tinggal saya sesuaikan saja sesuai ilmu yang saya tahu di SMK dulu," katanya.
Ketika ditanya apakah cip lie detector juga dipasangkan jemari tangannya. Dia jawab tidak. Karena sebetulnya, lie detector ini akan berfungsi untuk mengirimkan sinyal ke monitor kala jantung berdetak cepat atau normal. Itulah mengapa ini disebut alat uji kebohongan.
Pada dasarnya, secara teori, Tawan tidak mengetahui secara pasti mengapa alat ini bisa bekerja. Karena dalam pikiran awalnya, dia hanya berpikir mesin akan bergerak bila diarusi dengan motor yang dayanya diambil dari sumber listrik. Sementara sensor lie detector mengirimkan sinyal sesuai 'kemauannya'.
"Kalau salah ya silahkan saya dikoreksi, dibantu. Saya tidak ada niat berbohong atau mencari popularitas. Betul tidak. Karena ini dibilang digerakkan dengan sensor otak, tidaklah, saya merasa tidak secanggih itu. Karena saya coba ke anak saya yang paling besar juga tidak bisa," katanya.
Kini, lengan mesinnya telah rusak karena tersiram air hujan. Cip lie detectornya pun sudah dicopot dan dicarikan yang baru oleh paman Tawan. Namun, pria berusia 31 tahun ini mengaku tidak mau seraya memilih untuk menggantinya dengan sensor bionik.
"Keseringan pakai (lie detector) ini, saya jadi sering pusing dan muntah. Kata beberapa dosen sama tamu yang datang bilang katanya lebih bagus pakai sensor bionik, mungkin saya mau pakai itu saja," katanya. (cnnindonesia/krg/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




