Tawan alias I Wayan Sumardana mengenakan tangan robot ciptaanya di bengkel miliknya.
KARANGASEM, BANGSAONLINE.com - Masih ingat dengan Tawan alias I Wayan Sumardana, pria asal Karangasem, Bali yang berprofesi sebagai tukang las dan memiliki lengan robot? Pria ini kian ramai menjadi perbincangan. Pasalnya, lengan robot yang diciptanya untuk membantu pekerjaan sebagai tukang las, banyak yang meragukan.
"Kalau memang ada yang kurang, bantu saya sempurnakan. Bila ada komponen yang bagus, berikan ke saya, agar alat bantu kerja ini bisa lebih bagus," pinta Tawan sebagaimana dilansir CNN Indonesia.
BACA JUGA:
- Inovasi Penjernih Foto Berbasis AI Ini Bisa Diakses Gratis Lewat Browser
- Perbandingan Mekari Talenta vs Workday, Aplikasi HRIS Mana yang Paling Cocok Untuk Perusahaan Anda?
- Bocoran Desain iPhone Fold Semakin Kuat, Diperkirakan September 2026 Rilis
- WhatsApp Akan Rilis Paket Premium, Bisa Pin 20 Chat dan Ganti Icon
Sejak muncul di media, lengan mesin buatan bapak tiga anak ini memang menimbulkan perdebatan. Tawan pun secara jelas membeberkan cara kerja dari ujung kepala hingga ujung jari hingga lengan mesin yang telah dibuatnya itu bekerja.
Dia bilang dua minggu setelah tangan kirinya lumpuh, dirinya memang berpikir untuk membuat alat bantu kerja untuk menopang salah satu bagian tubuhnya tersebut. Tercetuslah ide membuat lengan mesin ini.
"Tidak digambar, tidak didesain. Saya cukup berpikir kalau sambungan ini ke sambungan lainnya akan begini. Cuma seperti di khayalan saja. Makanya komponen barang rongsokan, asal cocok saja saya ambil, saya pakai," katanya.
Setelah rangka untuk menopangnya tangannya selesai, dia pun mulai mencari cara agar lengan tersebut bisa digerakan. Percobaan pertama dia memasang receiver (penerima pesan) bagian salah satu lengannya. Receiver ini difungsikan untuk mengambil pesan sinyal dari remote biasa digunakan untuk mainan remote kontrol.
Receiver yang difungsikan sebagai sumber daya inilah yang kemudian bisa menggerakan lengan robot tersebut dari atas ke bawah, maju atau mundur.
"Istri saya yang memegang remotenya. Nanti saya perintahkan. Kalau kiri, ya dia tekan (tombol remote) ke kiri. Kalau ke kanan, dia tekan ke kanannya. Tapi lama-lama agak kesulitan juga, jadilah saya ganti dengan metode yang lebih simpel," katanya.
Setelah merasa tak puas dengan remote, suami dari Ni Nengah Sudartini, melakukan beberapa kali percobaan, seperti menggunakan saklar, saklar sentuh hingga bluetooth yang ada di ponsel Android. Namun semuanya masih belum membuatnya nyaman.
Sampai suatu saat dia terpikir untuk mencoba menggunakan sensor yang disebut Electroencephalography (EEG) pada lie detector atau uji kebohongan. Alat ini tentu saja tak bisa dengan mudah dibeli di Indonesia.
"Ada bos saya orang Rusia, sewaktu saya membuat desain pakai penggerak yang simpel ini, saya tunjukkan. Dia bilang di luar negeri banyak. Dia mau bantu, makanya saya kasih uangnya ke dia agar bisa dibelikan," katanya sembari menunjuk desainnya.
Setelah alat itu datang, lie detector seharga Rp 4,7 juta yang dibelinya tersebut kemudian dipasangkan kabel penghubung ke power amplifier berbentuk semacam PCB dari radio. PCB inilah yang menjadi power untuk menangkap sinyal dari lie detector.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




