Firman Syah Ali. Foto: Dok. pribadi
PERGESERAN NILAI
Emile Durkheim menyebutnya Anomie, Nietzche menyebutnya Ressentiment, Banfield menyebutnya Amoral Familism, Rene Girard menyebutnya Mimetic Desire, dan Hannah Arendt menyebutnya The Banality of Evil.
Intinya telah terjadi pergeseran nilai skala besar. Fenomena pemuliaan koruptor merupakan manifestasi dari runtuhnya norma sosial (anomie), yang diperparah oleh aksi serangan balik (Ressentiment) kolektif terhadap tokoh-tokoh berintegritas. Ketika korupsi berubah dari tabu menjadi standar keberhasilan hidup (Mimetic Desire), maka tokoh anti-korupsi otomatis diposisikan sebagai scapegoat atau public enemy yang harus disingkirkan melalui penghinaan sosial, biasanya melalui media sosial, agar tatanan kenyamanan moral baru yang permisif dan apresiatif terhadap koruptor tidak terganggu.
WHAT NEXT?
Menyelesaikan masalah banalisasi iblis dan glorifikasi iblis bukan tugas mudah. Penegakan hukum saja tidak cukup. Meritokrasi harus ditegakkan walau langit akan runtuh. Warga negara harus dididik untuk kritis, jangan sebaliknya. Literasi harus digenjot. Pemerintah beserta para stakeholder harus melakukan kontra narasi terhadap pemuliaan koruptor, nestapakan dan pariakan mereka secara terstruktur, sistematis dan masif terutama melalui opini publik.
Negara jangan hanya menghukum koruptor, tapi berikan panggung dan apresiasi (bisa berupa insentif, posisi, atau legitimasi sosial) kepada tokoh-tokoh dan pejabat yang berintegritas. Ini adalah cara merusak Mimetic Desire terhadap koruptor. Ini civic education yang nyata.
Penulis Analis Kebijakan Publik, dan Pengurus Pusat Asosiasi Dosen Pergerakan (ADP)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




