Gubernur Lemhanas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Khofifah Indar Parawansa, Dr Muhammad Al Baraa, Dr KH Mauhibur Rokhman dan para tokoh lainnya dalam acara Goes To Campus di Gedung Student Centre Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (12/5/2026). Foto: MMA/bangsaonline
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) Republik Indonesia Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. menegaskan bahwa peran pondok pesatren sangat strategis.
“Dari rahim pesantren lahir Indonesia,” tegas Gubernur Lemhanas Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si saat menyampaikan kuliah umum di depan ribuan mahasiswa Universitas KH Abdul Chalim (UAC) di Gedung Student Centre Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (12/5/2026).
BACA JUGA:
- Dahlan Iskan Pernah Tak Naik Kelas karena Sibuk Manggung Ikut Orkes
- DPRD Jatim Terima LKPJ 2025, Gubernur Khofifah Tekankan Sinergi Eksekutif-Legislatif
- Keren! Bahas Financial Freedom, Dahlan Iskan Tampil Energik di Depan Santri MBI Amanatul Ummah
- Dominasi Prestasi Nasional Raih 45.839 Medali di SIMT , Gubernur Khofifah Sampaikan Hal ini
Karena itu Ace Hasan Syadzily mengingatkan agar kita – bangsa Indonesia - tidak melupakan jasa pesantren. Ia mencontohkan peran KH Abdul Chalim, ayahanda Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang juga pendiri Universitas KH Abdul Chalim.
“Kiai Abdul Chalim telah berkorban untuk Indonesia,” ujar Ace Hasan Syadzily di depan sekitar 1.500 mahasiswa dan civitas akademika UAC.
Kiai Abdul Chalim ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 Agustus 2023. Ayahanda Kiai Asep itu selain dikenal sebagai pejuang kemerdekaan RI juga merupakan salah satu ulama yang terlibat mendirikan NU.
Ace Hasan mengaku bersyukur bisa hadir ke acara yang digelar UAC. Menurut dia, acara ini luar biasa, terutama karena sosok Kiai Asep yang mampu meinciptakan situasi adem.
“Sosok Kiai Asep laksana pelita. Beliau menjadi jalan kebijaksanaan yang dibangun lewat nilai-nilai spiritual,” ujar Ace Hasan Syadzily yang hadir bersama istrinya, Nyonya Rita Fitria yang dikenal sebagai Rita Ace Hasan Syadzily.
“Saya hadir bersama para istri,” tambahnya. Nyonya Rita Ace Hasan Syadzily memang Ketua Persatuan Istri Anggota (Perista) Lemhannas RI.

Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat menyampaikan sambutan, Selasa (12/5/2026). Foto: bangsaonline.com
Gubernur Lemhanas Ace Hasan juga hadir bersama para pejabat tinggi Lemhanas. Antara lain Mayor Jenderal TNI Farid Makruf, Tenaga Ahli Pengkaji Bidang Sumber Kekayaan Alam Lemhannas. Pria asal Madura itu mantan Pangdam V/Brawijaya Jawa Timur.
Selain Mayjen Farid Makruf juga Brigjen Pol Syahril Saharda, S.I.K., M.Si, Direktur Sosialisasi dan Media Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan Lemhanas.
Dalam acara yang digelar sejak pukul 14.00 WIB itu juga hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati dan Wakil Bupat Mojokerto Gus Barra dan Rizal Octavian serta para OPD baik Pemprov Jatim maupun Pemkab Mojokerto.
Juga hadir Rektor UAC Dr KH Mauhibur Rokhman (Gus Muhib), Direktur Pascasarjana UAC Dr Afif Zamroni (Gus Afif), dan civitas akademika UAC, terutama para dosen dan guru besar.
Tampak juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Prof Usep Abdul Matin, Ketua PCNU Kabupaten Mojokerto KH Abdul Muchid, Ketua Pengawas Yayasan Unitomo Surabaya Dr Achmad Rubaie, Wakil Ketua PAN Jatim Muhammad Fachruddin dan yang lain.
Ace mengingatkan para mahasiswa UAC bahwa pergerakan nasional di Indonesia dipelopori anak-anak muda. Ia menyebut contoh Budi Utomo yang didirikan oleh para pelajar STOVIA pada 20 Mei 1908. Begitu juga sumpah pemuda. Juga dilakukan anak-anak muda.
“Anak-anak muda telah memicu gelombang kesadaran nasional,” ujarnya.
Karena itu ia menilai pentingnya gerakan literasi untuk membangun ketahanan nasional dan wawasan nasional generasi muda dan santri. Bahkan, menurut Ace, pendidikan tidak cukup hanya transfer of knowledge.
“Tapi harus mempunyai kemampuan untuk membaca tanda-tanda zaman. Salah satunya kita harus memahami geopolitik, bagaimana kita bersikap terhadap dunia global,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam sambutannya Kiai Asep menegaskan bahwa secara historis kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran pondok pesantren. Menurut kiai miliarder tapi dermawan itu, semula para kiai pengasuh pesantren bersama santrinya melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda secara sporadis dan tidak terkordinasi.
“Sehingga gampang dilumpuhkan oleh Belanda,” ujar Kiai Asep yang pada 2025 mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Prabowo.
Penjajah Belanda punya firasat buruk ketika para kiai pesantren mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). “Ketika NU berdiri Belanda yakin bahwa bangsa ini akan merdeka,” ujar Kiai Asep.
Menurut Kiai Asep, NU berdiri memang dengn dua tujuan. Yaitu mengembangkan dan mendominankan paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan untuk memerdekakan bangsa Indonesia.
Sekarang, tegas Kiai Asep, bangsa Indonesia telah Merdeka. Tugas kita mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan Indonesia. Yaitu Indonesia maju, adil dan makmur.
Menurut Kiai Asep, untuk mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan itu ada empat pilar sesuai dengan Hadits:
قِوَامُ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ، وَعَدْلِ الْأُمَرَاءِ، وَسَخَاءِ الْأَغْنِيَاءِ، وَدَعْوَةِ الْفُقَرَاءِ Artinya:"Dunia ini ditopang oleh empat hal. Pertama, Iilmu para ulama. Kedua, keadilan para pemimpin. Ketiga, kedermawanan orang-orang kaya atau konglomerat. Keempat, doa orang-orang fakir atau miskin.
Menurut Kiai Asep, kedermawanan orang kaya atau konglomerat akan menjaga keseimbangan social terutama dalam membantu fakir miskin. Sementara doa orang miskin menjadi benteng spiritual bagi bangsa Indonesia.
"Tapi orang miskin ini tak boleh diproduksi. Karena itu di Amanatul Ummah kita ganti dengan menciptakan para professional yang berkualitas dan bertanggungjawab," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.
Artinya, professional yang kita lahirkan tidak hanya pintar tapi juga memiliki integritas dan pondasi moral yang kuat.
Sementara Gubernur Khofifah banyak menyampaikan capaian-capaian program pemerintahan Jatim yang dipimpinnya. Dengan menampilkan slide Khofifah menyebut bahwa Jawa Timur telah 7 kali secara berturut memimpin penerimaah siswa-siswi di perguruan tinggi lewat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Khofifah juga menunjukkan Jawa Timur sebagai peringkat pertama dalam produksi daging sapi dan susu sapi perah. Urutannya, pertama Jatim, kemudian Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara dan Lampung.
Menurut Khofifah, Jawa Timur juga menjadi lumbung pangan Nusantara. “Produksi padi Jawa Timur tertinggi secara nasional,” ujarnya bangga sembari menunjukkan slide yan disiapkan stafnya.
Begitu juga produksi beras juga tertinggi secara nasional.
Menurut Khofifah, sukses ini berkat kerja semua pihak, mulai dari tingkat provinsi hingga pemerintah kabupaten dan kota.
Jadi, tutur Khofifah, kalau Kiai Asep bersama para santrinya selama ini selalu mendoakan Jawa Timur, maka sebenarnya doa Kiai Asep telah terkabul atau terijabahi.
“Ini bukan riya’ tapi sebagai tahadduts binni’mah,” ujar ibu empat putra-putri yang juga Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat NU. Tahadduts binni’mah artinya menceritakan atau menampakkan nikmat Allah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




