Goes To Campus UAC, Gubernur Lemhanas: Dari Rahim Pesantren Lahir Indonesia

Goes To Campus UAC, Gubernur Lemhanas: Dari Rahim Pesantren Lahir Indonesia Gubernur Lemhanas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Khofifah Indar Parawansa, Dr Muhammad Al Baraa, Dr KH Mauhibur Rokhman dan para tokoh lainnya dalam acara Goes To Campus di Gedung Student Centre Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto, Jawa Timur, Selasa (12/5/2026). Foto: MMA/bangsaonline

“Tapi harus mempunyai kemampuan untuk membaca tanda-tanda zaman. Salah satunya kita harus memahami geopolitik, bagaimana kita bersikap terhadap dunia global,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam sambutannya Kiai Asep menegaskan bahwa secara historis kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran pondok pesantren. Menurut kiai miliarder tapi dermawan itu, semula para kiai pengasuh pesantren bersama santrinya melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda secara sporadis dan tidak terkordinasi.

“Sehingga gampang dilumpuhkan oleh Belanda,” ujar Kiai Asep yang pada 2025 mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera Nararya dari Presiden Prabowo.

Penjajah Belanda punya firasat buruk ketika para kiai pesantren mendirikan jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). “Ketika NU berdiri Belanda yakin bahwa bangsa ini akan merdeka,” ujar Kiai Asep.

Menurut Kiai Asep, NU berdiri memang dengn dua tujuan. Yaitu mengembangkan dan mendominankan paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) dan untuk memerdekakan bangsa Indonesia.

Sekarang, tegas Kiai Asep, bangsa Indonesia telah Merdeka. Tugas kita mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan Indonesia. Yaitu Indonesia maju, adil dan makmur.

Menurut Kiai Asep, untuk mewujudkan cita-cita luhur kemerdekaan itu ada empat pilar sesuai dengan Hadits:

قِوَامُ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةِ أَشْيَاءَ: بِعِلْمِ الْعُلَمَاءِ، وَعَدْلِ الْأُمَرَاءِ، وَسَخَاءِ الْأَغْنِيَاءِ، وَدَعْوَةِ الْفُقَرَاءِ Artinya:"Dunia ini ditopang oleh empat hal. Pertama, Iilmu para ulama. Kedua, keadilan para pemimpin. Ketiga, kedermawanan orang-orang kaya atau konglomerat. Keempat, doa orang-orang fakir atau miskin.

Menurut Kiai Asep, kedermawanan orang kaya atau konglomerat akan menjaga keseimbangan social terutama dalam membantu fakir miskin. Sementara doa orang miskin menjadi benteng spiritual bagi bangsa Indonesia.

"Tapi orang miskin ini tak boleh diproduksi. Karena itu di Amanatul Ummah kita ganti dengan menciptakan para professional yang berkualitas dan bertanggungjawab," ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu.

Artinya, professional yang kita lahirkan tidak hanya pintar tapi juga memiliki integritas dan pondasi moral yang kuat.

Sementara Gubernur banyak menyampaikan capaian-capaian program pemerintahan Jatim yang dipimpinnya. Dengan menampilkan slide menyebut bahwa Jawa Timur telah 7 kali secara berturut memimpin penerimaah siswa-siswi di perguruan tinggi lewat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

juga menunjukkan Jawa Timur sebagai peringkat pertama dalam produksi daging sapi dan susu sapi perah. Urutannya, pertama Jatim, kemudian Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Utara dan Lampung.

Menurut , Jawa Timur juga menjadi lumbung pangan Nusantara. “Produksi padi Jawa Timur tertinggi secara nasional,” ujarnya bangga sembari menunjukkan slide yan disiapkan stafnya.

Begitu juga produksi beras juga tertinggi secara nasional.

Menurut , sukses ini berkat kerja semua pihak, mulai dari tingkat provinsi hingga pemerintah kabupaten dan kota.

Jadi, tutur , kalau Kiai Asep bersama para santrinya selama ini selalu mendoakan Jawa Timur, maka sebenarnya doa Kiai Asep telah terkabul atau terijabahi.

“Ini bukan riya’ tapi sebagai tahadduts binni’mah,” ujar ibu empat putra-putri yang juga Ketua Umum Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat NU. Tahadduts binni’mah artinya menceritakan atau menampakkan nikmat Allah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO