Revitalisasi Pasar Tradisional di Jember Dikebut, Pemkab Dorong Digitalisasi dan Perbaikan Sarpras

Revitalisasi Pasar Tradisional di Jember Dikebut, Pemkab Dorong Digitalisasi dan Perbaikan Sarpras

JEMBER,BANGSAONLINE.com - Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Jember menyiapkan langkah revitalisasi pasar tradisional dengan fokus pada perbaikan sarana prasarana dan sistem pengelolaan.

Sekretaris Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan Kabupaten Jember, Wiwik Supartiwi menjelaskan, pembenahan fisik pasar menjadi prioritas guna meningkatkan kenyamanan serta daya tarik pengunjung.

“Dua hal yang dimaksud revitalisasi itu ada revitalisasi dari sisi sarpras, tapi ada juga revitalisasi dari sisi pengelolaannya,” ujar Wiwik.

Ia menambahkan, peningkatan target pendapatan daerah diharapkan berdampak pada penguatan anggaran untuk perbaikan pasar yang kondisinya sudah tidak layak.

“Kalau nanti ada peningkatan target pendapatan, itu artinya ada pengembalian anggaran untuk melakukan perbaikan-perbaikan sarana prasarana bagi pasar yang mungkin sudah saatnya atau tidak layak dihuni,” katanya.

Menurutnya, perbaikan tersebut akan membuat kios yang sebelumnya kurang layak menjadi lebih fungsional dan mampu menarik minat masyarakat untuk bertransaksi.

“Salah satunya yang kita dorong pada tahun 2026 ini adalah revitalisasi Pasar Tanjung yang diusulkan ke Kementerian PU, supaya menjadi pasar tradisional yang modern, aman, dan nyaman,” ungkapnya.

Selain aspek fisik, Pemkab Jember juga mendorong inovasi dalam pengelolaan pasar agar lebih kompetitif di era digital.

“Kemudian yang kedua dari sisi pengelolaan, harapannya ada inovasi supaya pasar-pasar tersebut menarik konsumen datang ke sana,” jelas Wiwik.

Ia mencontohkan sejumlah langkah yang akan dilakukan, seperti pelatihan pedagang berbasis digital hingga penerapan sistem pembayaran non-tunai.

“Melatih pedagang dengan pelatihan online di era digitalisasi, kemudian cara pembayaran yang tadinya manual menjadi digital atau cashless, sehingga pendapatan tidak banyak yang bocor,” ujarnya.

Wiwik menambahkan, optimalisasi pasar juga memerlukan dukungan regulasi dari berbagai pihak agar program berjalan efektif.

“Itu yang diharapkan dari masukan-masukan, sehingga kita perlu dukungan regulasi dari berbagai pihak,” katanya.

Terkait kondisi beberapa pasar yang mulai sepi atau tidak terisi, pihaknya tengah menyiapkan konsep revitalisasi berbasis tema atau ikon tertentu.

“Yang tidak dihuni itu harus dibuat menarik, baik dari fasilitas maupun konsep transaksi, misalnya pasar tersebut punya ikon tertentu,” jelasnya.

Sebagai contoh, konsep baru dapat diterapkan di pasar tertentu untuk menghidupkan kembali aktivitas perdagangan.

“Misalnya di Pasar Tegalbotho, nanti bisa dikembangkan dengan konsep pusat transaksi tertentu yang menjadi daya tarik pedagang,” tambahnya.

Di sisi lain, fenomena pedagang yang berjualan dari rumah dengan konsep 24 jam juga menjadi perhatian pemerintah.

“Memang sekarang banyak yang berjualan di rumah dengan konsep 24 jam, dan itu menjadi masukan bagaimana pasar juga bisa didorong melakukan hal serupa,” ujar Wiwik.

Namun demikian, pihaknya mengakui belum memiliki data pasti terkait jumlah pedagang yang beralih ke sistem tersebut.

“Kalau sampai saat ini kami belum mendapatkan data secara pasti, tapi secara umum fenomena itu memang ada,” pungkasnya. (nga/yud/van)