Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Bupati Fandi Akhmad Yani saat ground breaking pembangunan pabrik melamin di KEK JIIPE. foto: ist.
GRESIK,BANGSAONLINE.com - Pembangunan pabrik melamin senilai sekitar 600 juta Dolar Amerika di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Gresik dinilai memperkuat industri kimia nasional sekaligus mendorong pengembangan industri rendah emisi.
Proyek yang dikembangkan Golden Elephant (GEABH) tersebut menjadi salah satu fasilitas melamin terbesar di dunia dan dirancang terintegrasi dari hulu hingga hilir, mulai dari pengolahan gas alam menjadi amonia, urea, hingga melamin.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menyatakan, pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik serta memperkuat daya saing industri.
"Pengembangan industri melamin di Gresik merupakan langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi nasional. Kami mengapresiasi peran KEK Gresik dalam menyediakan ekosistem industri terintegrasi yang mampu menarik investasi berskala besar dan berkualitas tinggi," ujar Airlangga dalam sambutannya secara virtual dalam ground breaking pembangunan pabrik melamin di KEK JIIPE, Rabu (8/4/2026).
Pengembangan proyek ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat basis industri berbasis sumber daya alam, sekaligus mendukung transisi menuju industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Chairman Golden Elephant (GESC), Lei Lin, menyampaikan proyek ini mengusung pendekatan industri kimia berbasis ekonomi sirkular dengan dukungan teknologi proses generasi terbaru.
"Kami melihat JIIPE sebagai kawasan strategis untuk menghadirkan rantai industri kimia terintegrasi berbasis ekonomi sirkular di Indonesia. Proyek ini tidak hanya memperkuat pasokan industri dalam negeri, tetapi juga mendorong transfer teknologi dan kerja sama industri lintas negara," jelas Lei Lin.
Ia menambahkan, penerapan teknologi tersebut memungkinkan efisiensi energi hingga 30 persen lebih rendah dibandingkan standar industri global, serta mengoptimalkan pemanfaatan produk samping melalui proses daur ulang sehingga mendukung pengembangan industri kimia rendah karbon.





