Sementara itu, Prof Amin memberikan materi mengenai mewujudkan kesejahteraan masyarakat berlandaskan nilai-nilai agama serta potensi sumber daya yang dimiliki oleh Indonesia.
“Kemajuan Islam tidak terlepas dari peran serta ilmuwan Islam, termasuk para ekonom muslim. Peran para ilmuwan muslim tersebut terinspirasi oleh pesan wahyu Al Quran untuk pendayagunaan akal. Inilah mutiara yang hilang dewasa ini dan sebagai akibatnya dunia Islam tertinggal dan kehilangan daya saing. Motivasi keilmuwan lebih banyak diisi oleh keinginan memiliki materi sebanyak mungkin (materialisme). Logika masyarakat sekarang tentang kesejahteraan terkontruksi dengan pemikiranmaterialisme,” tutur Prof. Amin.
Prof. Amin juga menuturkan bahwa Islam memiliki konsep kesejahteraan yang jauh lebih bagus dibanding konsep-konsep ekonomi barat. Kesejahteraan dalam pandangan Islam bukan hanya dinilai dengan ukuran material saja, namun juga dinilai dengan ukuran non-material, seperti terpenuhinya kebutuhan spiritual, terpeliharanya nilai-nilai moral, dan terwujudnya keharmonisan sosial.
Menurutnya, masyarakat sejahteradalam perspektif Islam adalah bila terpenuhi dua kriteria yakni pertama, terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu, baik pangan, sandang, papan, pendidikan, maupun kesehatannya, dan kedua, terjaga dan terlidunginya agama, harta, jiwa, akal, dan kehormatan manusia.
“Dengan demikian, kesejahteraan tidak hanya buah sistem ekonomi semata. Melainkan juga buah sistem hukum, sistem politik, sistem budaya, dan sistem sosial,” papar Prof Amin.
Seminar dan diskusi paralel ini dilangsungkan selama dua hari, yakni pada Kamis-Jumat. Sejumlah 50 pemakalah yang merupakan dosen dari berbagai perguruan tinggi akan mempresentasikan masing-masing makalah mereka dalam diskusi paralel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




