Ali Khamenei. Foto: Anadolu/tvri
Kita hitung. Shalat dzuhur empat rakaat. Terdiri dari tahyat awal dan tahyat akhir. Pada tahyat awal baca syahadat satu kali. Pada tahyat akhir baca lagi syahadat satu kali. Berarti baca syahadat dua kali.
Kemudian shalat ashar. Juga empat rakaat. Baca syahadat lagi pada tahyat awal dan tahyat akhir. Berarti empat kali baca syahadat.
Lalu shalat maghrib. Terdiri dari tiga rakaat dan juga tahyat awal serta tahyat akhir. Otomatis baca syahadat dua kali. Berarti sudah baca syahadat enam kali.
Pada malam hari shalat isya’. Juga terdiri dari empat rakaat. Yang berarti juga terdiri dari tahyat awal dan tahyat akhir. Lagi-lagi baca syahadat dua kali. Berarti sudah baca syahadat delapan kali.
Kemudian shalat subuh. Terdiri dari dua rakaat. Yang berarti hanya satu kali tahyat. Berarti baca syahadat satu kali.
Nah total baca syahadat 9 (sembilan) kali.
Masak orang tiap hari istiqamah baca syahadat masih dikafirkan.
Apalagi Quran dan Tuhannya juga sama dengan kita.
Saya gak bisa bayangkan seandainya Rasulullah SAW masih hidup. Bagaimana respons Rasulullah SAW.
Saya lalu ingat saat saya ngaji di kampung sebelum saya mondok di Pesantren Tebuireng Jombang. Saya ngaji kitab Sullamut Taufiq. Yaitu kitab untuk orang awam atau orang kampung.
Kitab Sullamu Taufiq berisi masalah tauhid (teologi), fiqh, dan akhlak. Yang bersifat elementer.
Dalam kitab itu ada Hadits: إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا Artinya: Jika ada seseorang memanggil kafir pada sahabatnya atau sesama muslimnya maka cap kafir itu kembali kepada orang yang mengucapkan kafir itu.
Apa Haditsnya shahih? Hadits ini muttafaq alaih alias diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Jadi super shahih.
Dan Hadits ini sering dinukil KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ketua umum PBNU tiga periode yang juga Presiden ke-4 Republik Indonesia.
Semoga kita dapat hidayah sehingga kita tidak jadi takfiri yang mudah menghakimi keyakinan atau keimanan orang lain, tidak merasa paling benar, paling beriman dan paling Islam.
Saya sendiri sebagai kader NU tentu banyak perbedaan dalam pemahaman keagamaan dengan kelompok Syiah. Tapi saya tak berani menghukumi kafir orang sudah jelas-jelas bersyahadat.
Wallahua'lam bisshawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




