Nyai Mundjidah Wahab (dua dari kiri) saat menghadiri peringatan Satu Abad NU di Stadion Gajayana, Kota Malang, Ahad (8/2/2026).
KOTA MALANG, BANGSAONLINE.com - Pagi itu, Stadion Gajayana, Kota Malang, sudah dipenuhi jamaah. Dzikir mengalun sejak matahari naik, mengikat ribuan pasang tangan dalam Mujahadah Kubro Satu Abad NU, Minggu (8/2/2026).
Di antara lautan doa itulah, Senator DPD RI Jawa Timur Lia Istifhama membaca satu kisah yang lebih sunyi dari panggung: perjalanan khidmah Mundjidah Wahab—anak pendiri NU yang memilih setia berjalan.
“Dalam suasana mujahadah, saya selalu teringat bahwa Bu Nyai Munjidah adalah anak kandung perjuangan NU,” tutur Lia usai acara. “Bukan sekadar karena garis darah, tetapi karena hidupnya ditempa oleh khidmah.”
Nama lengkapnya Nyai Hj. Mundjidah binti KH Abdul Wahab Hasbullah. Lahir di Jombang, 22 Mei 1948, ia tumbuh di rumah pesantren yang merawat perbedaan dan mengajarkan disiplin jam’iyah. Sejak bocah, Munjidah akrab dengan rapat, muktamar, dan perjalanan NU—mengikuti ayahandanya ke mana pun ada kerja-kerja organisasi.
Jejak itu berlanjut menjadi pilihan hidup. Munjidah berproses dari bawah: IPPNU sebagai sekolah kepemimpinan, Fatayat NU sebagai ladang pengabdian, dan Muslimat NU sebagai ruang merawat jamaah. “Bu Nyai berjalan pelan, tapi konsisten,” kata Lia. “Itu khas anak pesantren.”
Ada kisah yang hidup di kalangan kader: Munjidah menyusuri pelosok desa dengan sepeda pancal, mengetuk pintu ranting demi ranting, menghidupkan semangat perempuan NU. Kadang berjalan kaki, kadang menumpang angin pagi. Semua dijalani tanpa banyak kata.
Khidmah itu berlapis. Di ruang publik, ia dipercaya umat dalam waktu panjang. Namun ia tetap santri—mengasuh asrama di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, menjaga ritme ibadah, dan merawat adab. “Amanah tidak membuat jaraknya dengan nilai,” ujar Lia.
Integritasnya menjadi cerita dari mulut ke mulut. Amanah dikembalikan ke umat: untuk seragam organisasi, papan nama kepengurusan, dan kegiatan kader Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, IPPNU—disertai pelaporan yang dapat dipertanggungjawabkan. “Bu Nyai selalu menempatkan khidmah di depan,” tambah Lia.
Pagi itu doa-doa mengalir tanpa jeda. NU menapaki usia satu abad. Di antara harap yang dipanjatkan, Lia menangkap satu pelajaran: menjadi anak pendiri NU bukan privilege, melainkan tanggung jawab. Dan Munjidah Wahab telah memilih menjalaninya—sunyi, setia, dan panjang—sebagai jalan hidup.
Bagi Lia Istifhama, di situlah makna Munjidah Wahab hari ini: bukan sekadar nama, melainkan teladan tentang bagaimana warisan besar dijaga—dengan kerja, adab, dan ketekunan yang tak mencari sorot lampu.








