Salah satu Sentra PKL di Pamekasan.
“Kami ingin sentra PKL itu ikonik, berkesan, bahkan instagramable. Bukan kumuh dan semrawut, tapi nyaman dan tetap sesuai aspirasi para PKL,” tuturnya.
Diskop UKM-Naker Pamekasan memperkirakan kebutuhan anggaran Rp3-4 miliar, dengan rincian disesuaikan kondisi tiap sentra. Sae Salera relatif lebih mudah ditata karena tidak ada bangunan permanen, sementara Food Colony membutuhkan izin khusus karena merupakan aset negara.
Selain 4 lokasi utama, pemerintah juga membuka peluang pengembangan 2 sentra tambahan di kawasan Stadion Ratu Pamelingan dan Terminal Kargo Larangan Tokol. Revitalisasi ini diharapkan menjawab keluhan PKL terkait sepinya pengunjung akibat minimnya daya tarik kawasan.
“Di daerah lain seperti Teras Malioboro atau Solo, sentra PKL selalu ramai karena tempatnya ikonik. Konsep itu yang ingin kita hadirkan di Pamekasan,” kata Sjaifudin.
Ia menegaskan, keberhasilan program membutuhkan komitmen bersama antara pemerintah, PKL, dan masyarakat.
“Kalau tempatnya sudah bagus dan nyaman, harus ada ketegasan. Tujuannya agar masyarakat bisa datang bersama keluarga dengan rasa aman, nyaman, dan menyenangkan,” pungkasnya. (bel/dim/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




