Gus Sayid, saya, Gus Mauhib, Ustadz Faiz , Pak Dhofir dan Ustadz Auvaq. Sedangkan Ustadz Sofwan tak kelihatan karena bertugas memfoto. Foto: bangsaonline
MADINAH, BANGSAONLINE.com – Di sela-sela padatnya jadwal ibadah dan ziarah di Madinah, M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE, sempat menyusuri kehidupan malam kota Madinah. Wartawan asal Madura ini mengunjungi Suq Qurban, salah satu pusat kuliner rakyat di kota suci yang dikenal sebagai salah satu kota terbersih se-dunia itu. Inilah laporannya:
Tiba-tiba ada pesan masuk ke WhatsApp (WA) HP saya. Saya lihat dari Ustadz Auvaq, salah satu pengurus travel Auva Amanatul Ummah.
“Assalamualaikum. Pak mangke mantun jemaah Isya’ kepangge ten pintu 339 njih. Ditenggo kalian Gus Mauhib,” tulis WA itu.
Saya penasaran. Ada apa kok Gus Mauhib mau ketemu saya malam-malam.
Gus Mauhib adalah menantu Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur. Beliau suami Ning Imah, putri Kiai Asep yang dikenal hafidzah alias hafal al Quran.
Nama lengkapnya Dr KH Mauhibur Rokhman, Lc., MIRKH. Beliau Rektor Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Pacet Mojokerto.
Usai shalat jemaah di Masjid Nabawi saya langsung menunju pintu gerbang nomor 339. Tapi saya sempat mampir toilet. Antre. Maklum, bubaran shalat isya’. Banyak sekali jemaah dari masjid yang langsung ke toilet.
“Maaf saya telat. Masih antre di toilet,” kata saya kepada Ustadz Auvaq.

Ketika saya tiba di pintu 339 ternyata Gus Mauhib tidak sendirian. Ada Gus Sayid, putra Kiai Asep. Gus Sayid sedang kuliah S2 di Universitas Al Azhar Mesir. Putra bungsu Kiai Asep itu terbang langsung dari Mesir ke tanah suci dan bergabung dengan jemaah umrah yang dipimpin Kiai Asep.
Juga ada Mudhoffir (Pak Dhofir), petugas tiket Kiai Asep.
Selain itu juga ada Ustadz Muhammad Jalaluddin Faiz dan Ustadz Sofwan. Dua nama terakhir ini muqimin. Sudah lama tinggal di tanah suci.
Ustadz Faiz adalah muthawwif, pemandu atau pembiming jemaah haji dan umrah. Sedangkan Ustadz Sofwan videographer. Ia melayani foto dan video bagi warga Indonesia yang menikah di tanah suci. Termasuk Prewed.
“Ustadz Faiz dan ustadz Sofwan ini belum dapat jodoh,” kata Gus Mauhib sembari tertawa.
Malam itu kota Madinah dingin. Untung saya pakai jaket. Saya pakai jaket tentara, pemberian Jenderal TNI AD Agus Sutomo, mantan Danjen Kopassus.
“Kita jalan-jalan,” ajak Gus Mauhib kemudian.
Saya mengikuti langkah mereka.
“Kita ke Suq Qurban,” kata Gus Mauhib kemudian.
Kami terus berjalan. Sampai keluar area Masjid Nabawi. Kemudian menyeberang jalan raya.
Arus jalan dipenuhi jemaah shalat Isya’ yang baru turun dari Masjid Nabawi. Kami masuk jalan agak sempit. Tapi penuh jemaah.

Inilah sumur tempat memasak kepala kambing itu. Foto: bangsaonline.
“Di daerah inilah jemaah umrah dari Bangladesh, India dan beberapa negara lainnya tinggal,” tutur Gus Mauhib. Saya melihat arus jemaah yang menuju ke arah ini memang berwajah Banglades dan India dan negara sekitarnya.
Tempat penginapan di kawasan ini sangat sederhana. Saya sempat melihat AC-nya. AC lawas.
“Satu bulan paling (sewanya) 300 riyal,” ujar Gus Mauhib.
Saya gak bisa bayangkan menu makanan mereka. Tapi semngat mereka untuk ibadah umrah sangat kuat. Mereka sangat khusu’.Saya langsung ingat jemaah umrah asal Indonesia. Yang hotelnya mewah dan bersih. Yang menu makanannya juga bermacam-macam. Tapi kadang masih mengeluh.
“Jemaah umrah Indonesia sudah masuk kelas menengah,” tutur Gus Mauhib.
Sekitar 15 menit kami berjalan kaki. Akhirnya kami tiba di Suq Qurban. Pusat kuliner rakyat. Letak sekitar 600 meter dari Masjid Nabawi Madinah.
Wow ramai sekali. Saya melihat banyak sekali waiter atau pramusaji yang secara agresif menawarkan menu makanan. Tapi mereka tetap rukun dan guyub. Tak ada perselisihan. Apalagi konflik.
“Kalau di Indonesia mungkin sudah saling santet,” seloroh Gus Mauhib.
Kami tertawa.
“Mau makan apa, kambing atau ikan,” tanya Gus Mauhib.
“Saya manut mawon,” jawab saya.
Ini jawaban paling aman. Karena saya belum pernah datang ke Suq Qurban.
Sehingga saya tak tahu menunya seperti apa. Karena itu yang paling aman manut selera Gus Mauhib saja. Toh sama-sama selera Indonesia. Paling tidak, apa yang kata Gus Mauhib enak, ya pasti recommended.
Saya terpukau karena ikannya besar-besar. Saya sibuk memfoto dan merekam ikan-ikan yang tergeletak di atas es. Besar dan panjang sekali. Tentu sembari melihat-lihat cara memasaknya.

Kami kemudian dipersilakan duduk. Sebanyak tujuh kursi ditata mengelilingi meja di tengah kepadatan pengunjung. Saya menyaksikan orang-orang sekeliling. Di sebelah kiri kami tampak beberapa wanita cantik asal Mesir dan suami serta anaknya makan lahap. Pengunjung Suq Qurban memang warga dari berbagai negara.
Begitu juga di sebelah kanan kami. Beberapa orang duduk melingkari meja dengan menu khas Arab.
Tak lama kemudian sajian makanan datang. Dua talam nasi. Saya tak sempat mengamati apa nasi mandi, basmati atau kabsa. Perhatian saya fokus pada ikan dan kepala kambing yang teronggok. Daging kepala kambing itu dikelupas diletakkan di atas nasi. Sementara kepala kambingnya diletakkan di atas piring tersendiri.
Subhanallah. Rasanya luar biasa. Sangat enak. Inilah menu super yang sangat rekommended.
Ternyata selera Gus Mauhib sangat tinggi soal kuliner. Saya lebih banyak makan sisa-sisa daging yang masih melekat di kepala kambing. Di kepala itu masih ada otak dan lidah yang sangat segar.
Rasa kepala kambing ini memang sangat khas. Maklum, cara memasaknya pun sangat unik. Kepala kambing itu tidak dimasak seperti masakan restoran pada umumnya.
“Ini dimasak di dalam tanah,” kata Gus Mauhib.
Saya penasaran. Ustadz Faiz kemudian mengajak saya masuk ke dalam dapur, tempat memasak kepala kambing tersebut. Seorang karyawan kemudian menunjukkan semacam sumur yang dalamnya sekitar 2,5 meter. Karyawan itu kemudian menarik salah satu kepala kambing dari dalam sumur tersebut. Kepala kambing tersebut penuh bumbu dan kuah.
Pantesan rasanya enak. Ternyata cara masaknya memang berbeda dan khas. Kepala kambing itu dipanggang di atas api tapi di dalam tanah. Di dasar sumur itu ada api yang panas dan membara. Sehingga daging pipi, mata, lidah, dan otaknya sangat empuk akibat panas apinya merata. Bahkan tidak hanya empuk tapi juga beraroma sangat khas.
Nah, cara memasak model itu disebut Fahiz.






