Syaiful Bahri
Beliau mengajarkan bahwa keterlibatan NU di panggung global dan politik harus dilandasi satu niat: khidmah (pelayanan umat), bukan alat politik sesaat atau sarana memperkaya diri. Inilah cetak biru jalan tengah yang hari ini terasa begitu sulit dipraktikkan.
Dilema "Cuan" dan Konsistensi Khittah
Area konflik yang paling memanas belakangan ini adalah isu ekonomi dan bisnis:
Pihak Tradisi: Fokus: Dakwah dan Pesantren, Pendanaan: Infaq, amal usaha kecil, dan kesederhanaan. Kekhawatiran: Keterlibatan bisnis raksasa (tambang, properti) akan menyeret NU ke dalam kepentingan politik, melupakan khittah, dan menghilangkan citra kiai yang zuhud.
Sedang Phak Modern, Fokus: Profesionalisme dan Kemandirian, Pendanaan: Holding company besar, bisnis profesional, dan mencari sumber "cuan" berkelanjutan, Tujuan: Agar NU mandiri secara finansial, dapat menafkahi puluhan ribu lembaga di bawahnya, dan membayar staf secara layak untuk memajukan organisasi.
Perdebatan ini sah. Namun, di mata publik, ketika NU terlibat dalam bisnis besar, bayangan para Kiai bersarung yang bersahaja tiba-tiba digantikan oleh citra pengusaha berdasi. Menjaga citra spiritual sambil mengelola aset triliunan adalah tantangan terberat PBNU hari ini.
Epilog: Kompromi Abadi demi Masa Depan Khidmah
Jika terjadi "prahara" di PBNU, mari kita anggap itu sebagai gejala pertumbuhan, bukan keruntuhan. Itu adalah suara tradisi yang berdialog dengan suara administrasi yang menuntut efisiensi. Intinya adalah upaya NU untuk menjawab pertanyaan paling sulit di abad ke-21:
Bagaimana caranya menjadi organisasi yang sangat tradisional secara spiritual (Istiqomah), tapi sangat modern dan profesional secara manajemen (Progresif)?
Kapal besar NU akan selalu dihantam gelombang—baik gelombang politik, isu bisnis, maupun isu stempel digital yang eror. Namun, selama Syuriyah (Kiai) dan Tanfidziyah (CEO) bisa berkompromi dan menjadikan khidmat kepada umat sebagai kompas utama, maka fondasi organisasi ini akan tetap kokoh.
Yang dibutuhkan saat ini adalah rekonsiliasi prosedur. Otoritas spiritual dan otoritas administratif harus menemukan titik temu yang mengakui kearifan kiai sekaligus legalitas administrasi.
*Penulis adalah wartawan HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






