Dosen dan mahasiswa ITS memberikan pelatihan cara kerja serta perawatan solar dryer kepada petani Mojorejo.
Berdasarkan hasil uji coba, alat ini mampu mengeringkan 10 kilogram cabai segar menjadi sekitar 1,67 kilogram cabai kering hanya dalam waktu 6–8 jam, jauh lebih efisien dibandingkan pengeringan tradisional yang memakan waktu hingga tujuh hari.
Selain mempercepat proses, inovasi ini juga membuka peluang bagi warga untuk mengembangkan produk olahan seperti chili oil dan cabai bubuk bernilai jual tinggi.

(Salah satu anggota tim Laboratorium Rekayasa Energi dan Pengkondisian Lingkungan ITS memberikan penjelasan mengenai cara penggunaan solar dryer kepada warga Desa Mojorejo, Kecamatan Modo, Kabupaten Lamongan)
Darmono, salah satu petani mitra di Desa Mojorejo, menuturkan, “Kehadiran teknologi solar dryer ini sangat membantu proses pascapanen. Saya harap inovasi ini dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan nilai jual cabai dan kesejahteraan petani setempat”.
Ketua tim pengabdi, Herny Ariesta Budiarti, S.T., M.T., menyampaikan harapannya agar inovasi ini dapat menjadi langkah awal kemandirian teknologi bagi masyarakat desa.
“Kami berharap solar dryer ini tidak hanya membantu petani Mojorejo dalam menjaga kualitas cabai, tetapi juga menjadi contoh penerapan energi bersih yang bisa direplikasi di daerah lain,” ungkapnya.
Ke depan, tim ITS berencana memperluas implementasi alat serupa pada komoditas pertanian lain sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




