Tim Dosen Fakultas Teknik dan Desain Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas Surabaya bersama anggota Komunitas Bank Sampah Medokan Ayu menunjukkan tampilan aplikasi BSCMU.com.
“AI di dalam aplikasi ini berfungsi seperti asisten virtual. Pengelola tinggal mengetik pertanyaan seperti ‘siapa pengumpul terbanyak bulan ini?’ atau ‘berapa omzet total minggu ini?’, dan sistem akan menampilkan jawabannya secara otomatis,” tambah Hariadi.
Fitur unggulan lain adalah mini e-money, yang memungkinkan saldo hasil tabungan sampah digunakan untuk transaksi internal, seperti pembelian kebutuhan rumah tangga di lingkungan komunitas. Dengan begitu, warga tidak hanya menabung sampah, tetapi juga merasakan manfaat ekonomi langsung.
Pembina Komunitas Pahlawan Lingkungan Medokan Ayu, Nanang Andi, menilai aplikasi ini membuat warga semakin semangat menabung sampah karena bisa memantau hasilnya sendiri.
“Kalau dulu mereka hanya tahu beratnya saja, sekarang bisa tahu nilainya dalam bentuk uang. Ini membuat warga lebih termotivasi dan merasa hasil kerja mereka dihargai,” ujarnya.
Sementara Ketua LPMK Medokan Ayu, Rudy Judianto, menyebut inovasi ini sebagai langkah maju menuju masyarakat cerdas lingkungan.
“Selama ini kegiatan bank sampah sering dianggap hanya kegiatan sosial, tapi dengan sistem seperti ini warga jadi sadar bahwa sampah bisa punya nilai ekonomi nyata. Ini bukti bahwa teknologi bisa membawa perubahan positif di tingkat kampung,” tegasnya.
Melalui digitalisasi ini, Bank Sampah Cinta Medokan Ayu membuktikan bahwa inovasi tidak harus datang dari kota besar atau industri besar. Dari kampung Medokan Ayu, Surabaya, lahir sebuah sistem pintar yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, bukan lagi sekadar limbah, tetapi aset bernilai yang bisa dikelola, dipantau, dan menghasilkan omzet secara transparan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




