Sri Mulyani. Foto: AFP/STEFANI REYNOLDS/CNN
Oleh: Mukhlas Syarkun
Sebagai menteri keuangan, nama Sri Mulayani mendunia. Bu Sri - panggilan akrabnya - menjadi direktur IMF dan diapresiasi sebagai menteri keuangan terbaik. Banyak yang terpesona, apalagi mampu bertahan limabelas tahun sebagai menteri keuangan.
BACA JUGA:
- Mantan Menkeu Sri Mulyani jadi Dosen World Leaders Fellow di Universitas Oxford
- Janji Perbaiki Coretax Dalam Sebulan, Purbaya Kerahkan Ahli IT
- Heboh Lagi, Kali Ini Yudo Sadewa, Putra Menkeu Purbaya Tuding Sri Mulyani Agen CIA
- Remehkan Kritik Publik, Menkeu Purbaya Diminta Buka Telinga, Publik Kenyang Janji Muluk
Bahkan Bu Sri sepi kritikan. Sebaliknya full pujian. Hanya segelintir orang yang berani kritis, khususnya almarhum Bang Rizal Ramli. Ia berani mengekritik keras, tajam dan rasional. Tapi ia diserbu buzzer (kini termul) secara brutal.
Sekarang era berubah. Setelah rumah Sri Mulyani dijarah massa, jabatannya dilucuti, mulai muncul kritikan tajam, bahkan sampai di-Fir'aun-kan oleh menteri keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa. Disusul Mari Pangestu. Ia ikut mengkritik keras dan tajam sekali.
Sosok Bu Sri dengan segala kebijakannya adalah gambaran utuh rezim sepuluh tahun, Jokowi, yang menggerogoti dan menggoyahkan bangunan ekonomi secara serius. Dan jika tidak diatasi, ia akan membawa kehancuran ekonomi secara sistemik.
Benarkah?
Pertama, hutang dengan tingkat bunga tertinggi di dunia. Inilah yang disorot almarhum Bang Rizal karena berdampak beban berat pada APBN yang selalu defisit, akhirnya gali lobang dan tak mampu tutup lobang dan celakanya menggali lobang lagi.
Kedua, mencari pendapatan negara hanya fokus majakin rakyat, potensi pendapatan di sektor pertambangan dan BUMN tak dimaksimalkan. Akibatnya 80 persen APBN dari menghisap darah, keringat dan air mata rakyat.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




