Baihaki Sirajt, Direktur Lembaga Survei ARCI.
"Karena ujungnya yang dipilih tentu tidak bisa dituntut kerja. Sebab, mereka merasa dipilih karena faktor kecantikan atau kecakapan visual belaka," tambahnya.
Secara tegas, Baihaki menyampaikan bahwa gelombang demostrasi yang sempat menjadikan Indonesia sorotan dunia, menjadi momentum bahwa demokrasi harus melahirkan tokoh politik yang memiliki rekam jejak.
"Demo besar-besaran beberapa waktu lalu adalah momentum, bahwa inilah saatnya masyarakat disuguhkan calon-calon wakilnya melalui rekam jejak. Jangan lagi terjebak pada editing foto maupun branding-branding popularitas yang menjadi kamuflase atau menutup rekam jejak calon wakil rakyat," tegasnya.
Jika ditinjau dari data KPU RI, latar belakang pendidikan, lulusan S1 menjadi yang terbanyak dengan 155 orang atau 26,72 persen. Posisi berikutnya adalah lulusan S2 dengan 119 orang (20,52 persen), disusul lulusan SMA sebanyak 63 orang (10,86 persen), dan lulusan S3 sebanyak 29 orang atau 5 persen.
Adapun lulusan D3 menjadi yang paling sedikit, yakni tiga orang (0,52 persen). Menariknya, masih ada 211 anggota DPR yang belum mencantumkan latar belakang pendidikannya, atau setara 36,38 persen.
Sementara di DPD RI, sejumlah senator diketahui memiliki gelar doktor juga beberapa saja. Di antaranya Prof. Dr. H. Dailami Firdaus, Dr. Filep Wamafma, Dr. Lia Istifhama asal Jawa Timur, serta Elviana asal Jambi. (mdr/rev)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




