Grafis The Republic Institute
Otomatis kenaikan elektabiltas Gerindra dan PAN itu menggerus suara dua partai besar di Jawa Timur yakni PKB dan PDIP.
“PKB mengalami penurunan elektabilitas yang cukup signifikan. PKB, yang sebelumnya menjadi partai dominan di basis Nahdliyin Jawa Timur, mulai kehilangan daya tarik pasca kekalahan beberapa kadernya dalam Pilkada 2024 dan fragmentasi suara pesantren,” katanya.
Menurut Izzudin, elektabilitas PKB kini berada di angka 16,5%, sedikit di bawah Gerindra.
“PDIP juga mengalami kemunduran elektoral ke angka 14,6%, terutama akibat pengaruh politik nasional pasca Pemilu Presiden serta kekecewaan sebagian konstituen terhadap kinerja elite partai dan kegagalan memenangkan banyak kontestasi kepala daerah,” tuturnya.
Lalu bagaimana dengan Partai Golkar? Ternyata partai warisan Orde Baru itu bertahan di angka 9,1%.
“Relatif stabil dengan kekuatan struktural partai dan tokoh-tokoh lokal yang masih berpengaruh di beberapa kabupaten dan kota,” kata Sufyanto.
Sementara partai lain mengalami stagnasi. “NasDem (7,0%), Demokrat (6,7%), dan PKS (5,0%) masih menunjukkan eksistensi, namun belum mencatat lompatan elektoral signifikan,” ujarnya.
Yang memprihatinkan justru PPP. Partai bergambar kakbah itu hanya meraih 3,5%.
“Ini menunjukkan bahwa basis tradisional partai ini terus tergerus dan belum pulih dari kekalahan di berbagai daerah,” tuturnya.
Sementara publik yang belum menentukan pilihan (TT/TJ) masih mencapai 10,2%. Ini menandakan adanya ruang kontestasi terbuka yang masih bisa dioptimalkan menjelang Pemilu 2029.
Menurut Sufyanto, survei ini mewancarai 2.200 responden yang tersebar di seluruh 11 daerah pemilihan (dapil) DPR RI di Provinsi Jawa Timur. Survei dilaksanakan selama sepekan, yaitu pada tanggal 14 hingga 20 Juli 2025. Dengan jumlah tersebut, survei ini memiliki margin of error sebesar ± 2,1% pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




