Tafsir Al-Hajj 11: Munafik, Beragama Kondisional

Tafsir Al-Hajj 11: Munafik, Beragama Kondisional Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Tetapi, hari-hari berikutnya untanya tidak lagi produktif, sehingga kekayaan berkurang dan mulai surut. Lalu dia berteriak memaki-maki agama Islam. ini sungguh agama brengsek.

Keempat, senada dengan di atas adalah Syaibah ibn Rabi’ah yang sowan kepada Rasulullah SAW dan meminta agar dido’akan banyak rezeki dan berjanji memeluk islam. Mengingat pengaruhnya yang cukup besar di masyarakat arab, maka Nabi berkenan mendoakan.

Dan benar, dia makin kaya dan semakin kaya dalam waktu singkat. Tapi Tuhan mengujinya dengan surutnya rezeki, lalu dia murtad.

Apapun versi sabab nuzul yang ada dalam referensi tafsir, yang paling nyata adalah, bahwa ayat kaji ini turun kepada orang-orang munafik, orang yang tidak konsis, tidak punya komitmen dalam bergama, tendensinya materi, sehingga mudah goyah dan akhirnya murtad.

Itulah, maka Tuhan membahasakan keimanan mereka sebagai keimanan pinggiran, hanya ada di tepian saja, tidak serius masuk ke dalam dan tidak tangguh.

wa min al-nas man ya’bud Allah ‘ala harf”. Jika mendapatkan kehidupan enak, rezeki berlimpah, maka dia tetap pada keimanannya. Tapi bila tidak, maka dia berpaling dan murtad. “fa in ashabah khair ithm’ann bih, wa in ashabathu fitnah inqalab ‘ala wajhih”.

Terhadap keimanan para munafik yang “pinggiran” (‘ala harf) Tuhan menyatakan pasti merugi di dunia dan di akhirat, dan itu kerugian nyata (al-khusran al-mubin).

Kala ayat ini turun sudah bisa dibuktikan. Orang munafik yang tidak jelas sikapnya sudah dimengerti dan diwaspadai oleh umat islam. Di dalam Islam, dia dihukumi sebagai wong “kafir”, meski tidak dihabisi.

Bila diaktualkan, ayat ini tidak hanya berlaku dalam beragama belaka. Sifat dan sikap macam itu, yakni tidak tangguh dan seenaknya, pastilah merugikan, pasti tidak membawa pelakunya menuju kesuksesan. Coba saja diperhatikan sektor keduniawiaan, apa saja.

Anda bekerja di sektor bisnis bebas atau pegawai di perusahaan. Lalu tidak serius, tidak disiplin, dan seenaknya. Terasa enak, aktif dan disiplin. Kala ada “perkoro”, anda malas dan tidak masuk kerja. Bagaimana jadinya? Pasti pekerjaan anda tak kan bisa berlanjut dan tak kan membuahkan hasil. Merugi jadinya, “dzalik huw al-khusran al-mubin”.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Pandemi, Ketua TP PKK Kabupaten Mojokerto Ajak Anggotanya Peduli Sesama':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO