Tafsir Al-Anbiya' 92-94: "Kufr" dan "Kufran"

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.


TAFSIR

Fa la kufran li sa’yih”. Sungguh tidak sedikit pun amal manusia itu ditutupi, tanpa ada jurnal, tanpa ada imbalan dan balasan. Kali ini sejenak ngaji lughah, bahasa Alqur’an, bahasa arab wahyu dan bukan bahasa arab budaya. Bahasa Alqur’an punya langgam sendiri, jauh melampaui bahasa arab budaya.

Kali ini ngaji bentuk mashdar. Dalam ilmu sharaf, kaidah simpelnya: Mashdar ialah kata ketiga setelah fi’il madli dan fi’il mudlari’. Nashara, Yanshuru, Nashra. Kafara, Yakfuru, Kufra. Kata Nashra dan kata Kufra itu disebut mashdar. “Wa ma yaji’u tsalitsa fa mashdaru”.

Tetapi, jika mashdar tersebut berpola ziyadah, ada tambahan huruf Alif dan Nun di bagian akhirnya, contohnya: Qurb menjadi Qurban, Qira’ah menjadi Qur’an, Hayah menjadi Hayawan, Kufr menjadi Kufran, maka maknanya “sangat dan sungguhan” atau mubalaghah.

Jadi: kata Qurb, artinya dekat, sedangkan Qurban, artinya dekat sungguhan. Qira’ah, bacaan. Qur’an, bacaan sugguhan. Hayah, hidup dan Hayawan, hidup sungguhan.

Makanya, Hidup di dunia itu, dalam Alqur’an dibahasakan dengan “hayah”, “al-hayah al-dunya”, karena sangat singkat, tidak hakiki, tidak selamanya. Sedangkan kehidupan akhirat diistilahkan dengan Hayawan, karena hidup hakiki dan sejatinya, tanpa batas.

Kufr, artinya tutup, ditutupi. Kufran, sungguh ditutup beneran. “La kufran”, pada ayat kaji ini maknanya, bahwa amal manusia, dari siapa pun, macam apa pun, seukuran apa pun, sungguh tidak akan ditutupi sama sekali pada hari akhir nanti. Semuanya terlihat jelas, sangat detail dan terbuka. Allah a’lam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO