Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, saat memberi sambutan didampingi wakilnya, Gus Qowim. (Ist)
KOTA KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, memaparkan strategi pengendalian inflasi di Kota Kediri, pada High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), yang dilaksanakan di Ruang Joyoboyo Balai Kota Kediri, Jumat (21/3/2025).
Menurut Vinanda, Kota Kediri mengalami deflasi month to month -0,98% pada bulan Februari. Ketika terjadi inflasi dan deflasi di suatu daerah, pasti memiliki dampak masing-masing.
BACA JUGA:
- Gubernur Khofifah Salurkan Bansos Rp1,819 Miliar untuk Masyarakat Kota Kediri
- Pemkot Kediri Jangkau Calon Siswa Sekolah Rakyat 2026/2027
- Perbarui DTSEN, Pemkot Kediri Pastikan Distribusi Bansos Lebih Tepat Sasaran
- Sambut Studi Tiru dari NTT, Wali Kota Kediri Perkenalkan Pengembangan Tenun Ikat Bandar Kidul
Ketika terjadi deflasi yang berkepanjangan, lanjut Vinanda, akan cenderung mengakibatkan krisis ekonomi yang akan merugikan perusahaan. Pengusaha akan kehilangan konsumen karena tidak ada yang membeli produk mereka, sehingga dapat mengalami kebangkrutan, lalu terjadi pemutusan hubungan kerja, dan terjadi pengangguran.
Sedangkan ketika terjadi inflasi, dapat merugikan konsumen. Ketika harga kebutuhan mahal, masyarakat enggan membeli dan akhirnya kesejahteraan masyarakat juga terganggu.
“Maka Pemerintah Kota Kediri perlu bersinergi dengan pihak-pihak terkait untuk menjaga agar terjadi kestabilan harga kebutuhan pokok,” jelasnya.
Lebih lanjut, wali kota muda ini meminta agar TPID paham tujuan dari pengendalian inflasi, yakni menjaga inflasi tahun 2025 pada kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%. Dalam rangka menjaga akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




