Ketua Tan Malaka Institut Jawa Timur, Imam Mubarok (kiri) saat memimpin doa dan tahlil di area makam Tan Malaka. (Ist).
KEDIRI,BANGSAONLINE.com - Puluhan pegiat budaya dan mahasiswa berkumpul di area makam Tan Malaka yang terletak di RT 03/RW 03 Dusun Ledok, Desa Selopanggung, Kecamatan Semen, Jumat (21/2/2025).
Mereka berkumpul untuk memperingati haul ke-76 sekaligus merefleksikan perjuangan Tan Malaka, sosok revolusioner yang telah diakui sebagai pahlawan nasional.
BACA JUGA:
- Di Pertemuan Rutin Himasal dan Lim, Gus Qowim: Ulama dan Umara Harus Sinergi dengan Masyarakat
- Ular Piton 2 Meter Muncul di Pekarangan Rumah Warga, Damkar Pos Grogol Kediri Lakukan Evakuasi
- Ketua Caretaker DPD AMPI Ajak Gen Z Lestarikan Kuliner Legendaris Berbumbu Rempah
- Pengukuran Ulang Jadi Solusi Sengketa Tanah di Tawang Kediri
Sebelum memasuki area makam untuk berdoa, para peserta menggelar orasi perjuangan yang diiringi lantunan lagu kebangsaan.
Doa dan tahlil untuk mengenang jasa Tan Malaka. Momen ini menjadi ajang perenungan akan pemikiran dan gagasan-gagasannya
Terutama dalam membangun kesadaran kritis dan perjuangan melawan ketidakadilan.
Ketua Tan Malaka Institut Jawa Timur, Imam Mubarok, mengatakan, peringatan Haul ke-76 Datuk Ibrahim Tan Malaka bukan sekadar mengenang sosok revolusioner ini, tetapi juga menjadi momentum refleksi atas gagasan serta perjuangannya dalam membangun bangsa.
Menurut Gus Barok, sapaan akrab pria yang juga jurnalis senior di Kediri itu, Tan Malaka tidak hanya dikenal sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan, tetapi juga sebagai pemikir yang mendasarkan perjuangannya pada rasionalitas dan ilmu pengetahuan.
"Pemikiran Tan Malaka, khususnya yang dituangkan dalam karyanya Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika), memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir kritis. Dalam Madilog, Tan Malaka mengajarkan bahwa kemajuan suatu bangsa harus didasarkan pada pemikiran rasional serta metode ilmiah, bukan sekadar kepercayaan dogmatis atau mitos yang menghambat kemajuan,"ucap pria yang juga Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Kediri itu.
Gus Barok juga menyoroti bagaimana Tan Malaka secara tajam mengkritik pola pikir mistis dan feodal yang dianggapnya sebagai penghambat perkembangan sosial.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




