Drs KH Khoiron Syu'aib (kanan) dan M. Mas'ud Adnan saat persiapan rekaman Podcast BANGSAONLINE di kantor HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE di Surabaya. Foto: mma/bangsaonline
“Itu 2010. 2011 awal sudah gelisah ini orang-orang. Maka 2012 keluarlah Surat Edaran (SE) penutupan lokalisasi se-Jawa Timur dari gubernur,” kata Kiai Khoiron.
Saat itulah Wali Kota Surabaya Bu Risma menolak ide penutupan lokalisasi itu di Surabaya. Dan pernyataan Risma itu dimuat berbagai media. Kiai Khoiron mengangguk-angguk membenarkan.
“Kan gini. Dari 47 titik itu kan di Surabaya ada 6 (lokalisasi), di Banyuwangi ada 5 titik, di Malang ada 5 titik, di tempat lain ada yang dua, ada yang tiga, satu. Terkumpul 47 titik,” katanya.
Suasana saat itu, tutur Kiai Khoiron, gelisah. Terutama di lingkungan pejabat Provinsi Jawa Timur.
“Akhirnya Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur pagi-pagi sudah ada di depan pintu rumah saya,” tutur Kiai Khoiron.
Menurut Kiai Khoiron, Kepala Dinas Sosial itu tanya kepada Kiai Khoiron, betulkah lokalisasi Bangunsari itu bisa ditutup?
“Kalau serius bisa,” jawab Kiai Khoiron.
Kiai Khoiron memang salah satu tokoh ujung tombak penutupan lokalisasi di Surabaya. Tak aneh, jika semua pihak datang ke rumah Kiai Khoiron.
Bahkan tak lama kemudian Menteri Sosial RI juga datang ke rumah Kiai Khoiron.
Untuk apa? Nah, di sinilah mulai muncul fitnah kepada Kiai Khoiron? Fitnah apa?
Silakan tonton podcast BANGSAONLINE di channel YouTube. Jangan lupa subscribe, like dan komentar ya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




