PBNU Bela Jokowi Mati-Matian, Tambang Tak Kunjung Diberikan

PBNU Bela Jokowi Mati-Matian, Tambang Tak Kunjung Diberikan Dahlan Iskan. Foto: istimewa

Sampai 100 hari pemerintahan baru Presiden Prabowo lewat pun tidak ada kabar soal untuk NU. Yang muncul justru berita yang datang dari anggota DPR-RI. 

Dari fraksi PDI Perjuangan. "Apakah adil kalau dalam UU Minerba dicantumkan pasal pemberian jatah tambang untuk NU dan ?" 

Dikatakan, pertanyaan itu datang bukan dari anggota DPR itu sendiri. Pertanyaan itu langsung dipesan oleh Ketua Umum Megawati Soekarnoputri pada si anggota DPR. 

Berarti pertanyaan ''adil atau tidak adil'' itu sangat serius. Saya pun ikut merenungkannya: iya ya... adil atau tidak ya... Dari situ baru saya tahu: rupanya janji tambang untuk NU tersebut harus menunggu UU Minerba diubah dulu. 

Kalau UU-nya tidak diubah, tidak ada ''pintu'' untuk melaksanakan pemberian itu. Tidak ada pintu belakang di UU. Semua harus lewat pintu depan. 

Perubahan UU tentu harus lewat DPR. Dulu selalu ada jalan tol menuju DPR. Kini mulai ada pertanyaan seperti yang dipesan oleh Megawati ke petugas partai di DPR. 

Yang tersirat: PDI Perjuangan menganggap masuknya pasal pemberian tambang seperti yang diinginkan itu terasa tidak adil untuk golongan masyarakat yang lain. 

Selanjutnya kita tidak tahu: apakah DPR kini sedang membahas usulan perubahan UU itu. Atau belum. Atau sudah. 

Konsentrasi kita habis untuk mengikuti perkembangan pembongkaran pagar laut di PSN PIK2. Begitulah birokrasi. Janji diucapkan. 

Dikira mudah dilaksanakan. Ternyata staf yang akan melaksanakan ragu-ragu: apakah kalau dilaksanakan tidak melanggar UU. Apakah tidak akan masuk penjara. 

Mereka pun diam-diam bersikap: lebih baik tunggu atasan yang memerintahkan itu tidak jadi atasannya lagi. Ulur waktu. Pura-pura ''iya, iya'' tapi tidak ''iya''. 

Sampai atasan tidak jadi atasan lagi. Lalu mereka bilang: aturannya harus dibuat dulu, UU-nya harus diperbaiki dulu. 

Maka saya pun sulit menjawab pertanyaan peserta festival Isra Mikraj di Miftahul Huda, Kroya tersebut. 

Dari Kroya saya naik kereta api Panoramic menuju Bandung. Kereta saya berangkat dari Kroya telat 15 menit. Di dalam kereta saya hubungi teman Tiongkok yang di Jakarta. 

Kami janjian bertemu di Stasiun Bandung. Dia akan naik kereta cepat Whoosh dari Jakarta. 

"Maafkan, kereta saya telat 15 menit. Anda tunggu saya di stasiun Bandung, atau Anda check in dulu di hotel." 

Jawabnyi: "Kereta saya juga telat. Satu jam," jawabnyi. 

"Anda naik kereta cepat kan?” tanya saya tidak percaya Whoosh setelat itu.

"Iya. Kereta cepat Whoosh. Banyak kereta yang telat hari ini," jawabnyi. 

Panoramic telat. Whoosh juga telat. Tambang batu bara lebih telat lagi –atau bahkan tidak jadi berangkat.(Dahlan Iskan/Disway) 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Presiden Jokowi Unboxing Sirkuit Mandalika, Ini Motor yang Dipakai':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO