Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.
Kedua, bila diasumsikan saking gedenya, saking besarnya barang yang digoreng, mengingat yang makan adalah para dedemit, genderuwo dan para raksasa, maka wajan itu kira-kira seluas lapangan bola untuk menggoreng pisang segede Tugu Pahlawan Surabaya.
Begitu pula “qudur rasiyat”, belanga, kuwali, kendil yang kokoh-kokoh. Tentu saja, selain berukuran sangat besar, materinya sangat kuat. Bisa terbuat dari besi, baja, atau logam dan lain-lain.
Pertanyannya, untuk memasak atau menggodok apa? Mungkin digawe godog telo, pohong segede menara Masjid Al-Akbar Surabaya. Lalu, dapurnya seberapa? Itulah tafsiran “wa ya’malun amala dun dzalik”. Allah a’lam.
Membaca ulang ayat di atas, tergambar secara nyata, bahwa memperkerjakan makhluk itu bebas dan diperbolehkan. Termasuk memperkerjakan jin. Silakan kalau anda bisa, seperti Nabi Sulaiman A.S.
Tetapi hak dan kesejahteraan mereka wajib diperhatikan. Janganlah menzalimi mereka.
Menurut kurrikulum perdukunan, memperkerjakan jin, menjadikan khadam jin itu memang enak, tetapi sesungguhnya sangat berisiko pada akhirnya.
Aslinya, para jin itu sama saja dengan manusia dan makhluk hidup lain. Ingin hidup terhormat dan dihormati, bukan direndahkan dan dibebani.
Mereka pasti menghitung dan meminta imbalan yang sepadan, seperti layaknya para pekerja. Terhadap orang sakti majikannya, para jin itu sesungguhnya bekerja dengan terpaksa dan bukan karena sukarela.
Makanya, ketika sang majikan lengah dan lemah, mereka mesti menuntut balas dan berulah. Kalau si majikan tidak mampu menangkis, maka akan jatuh sakit, seperti lumpuh, linglung, dan lain-lain.
Kalau majikan mampu, maka jin perewangan tersebut akan terus menuntut kepada ahli waris setelah sang majikan meninggal. Sebaik-baik jin, tidaklah bisa sebaik mansuia.
“Wa kunna lahum hafidhin”. Kami-lah yang bertanggung jawab menjaga mereka, begitu ikrar Tuhan. Maksudnya, terma ini untuk menjamin keselamatan para jin pekerja yang sedang bertugas menyelesaikan pekerjaan besar yang berisiko.
Makanya menggunakan kata “lahum hafidhin”. Jadi titik tekan ayat ini kepada pekerjanya.
Sementara pada ayat sebelumnya menggunakan terma: “wa kunna bi kull syai ‘alimin”. Di mana Tuhan maha monitoring kepada setiap hasil karya yang mereka buat.
Pengertian “’alimin” termasuk juga memberi bimbingan kepada mereka agar semakin inovatif, sehingga menghasilkan karya-karya baru yang lebih modis. Jadi, titik tekan ayat ini kepada hasil karyanya, bukan pada pekerjanya.
Dari penutup kedua ayat di atas, bila digabung menghasilkan pelajaran yang berharga. Bahwa, dalam bekerja, seperti di pabrik atau di perusahaan, maka yang mesti diperhatikan adalah – minimal – dua hal. Pertama, keselamatan kerja dan kedua produktivitas. Allah a’lam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




