Lalu lintas di Vietnam. Foto: Localvietnam/Rmol
Thailand memang sangat beda dengan Indonesia. Kalau di Indonesia untuk menyapa orang saja pakai klakson.
Kenapa para pengemudi di Thailadn sangat tabu terhadap bunyi klakson. Konon, kutur ini terkait dengan peristiwa yang pernah terjadi pada Raja Thailand.
Seperti ditulis Jeniffer Gracellia di Kompasiana, 25 Februari 2021, Raja Bhumibol Adulyadej (1946 -2016) sangat dicintai oleh rakyatnya. Saking dicintai oleh rakyatnya ia sampai berkuasa selama 70 tahun plus 125 hari. Raja Bhumibol juga dikenal sebagai Raja Rama IX.
Suatu saat Raja Bhumibol menyetir mobil sendiri. Tanpa ditemani ajudan dan pengawal. Ia pun mengalami macet. Tiba-tiba di belakang Raja Bhumibiol ada mobil seorang menteri yang dikawal seorang polisi.
Polisi itu membunyikan klakson. Tapi Raja Bhumibol tak meminggirkan mobilnya. Polisi itu lalu turun dari motornya. Ia mengetuk-ngetuk kaca mobil Raja Bhumibol. Betapa kaget polisi itu ketika tahu bahwa yang lagi mengemudi mobil itu adalah Raja Bhumibol. Saking kagetnya ia sampai pingsan.
Raja Bhumibol kemudian memanggil menteri itu ke Istana Raja. Raja Bhumibol menasehati si menteri. Menurut Sang Raja, sebagai menteri tentu ia dihormati masyarakat, tapi seorang menteri juga harus menghormati masyarakat.
Peristiwa itu tersebar. Sehingga para menteri dan masyarakat Thailand tak berani membunyikan klakson karena khawatir yang diklakson adalah keluarga raja. Sejak peristiwa itulah bunyi klakson jadi tabu di jalan raya Thailand.
Selama beberapa hari di Bangkok Thailand yang kini dipimpin Raja Vajiralongkorn itu BANGSAONLINE memang tak pernah mendengarkan bunyi klakson.
Kultur di Thailand ini sama dengan di Brunei Darussalam. Di negara kaya yang dipimpin Raja Hassanal Bolkiah itu BANGSAONNLINE tak pernah mendengar bunyi klakson.
“Di sini tak ada orang membunyikan klakson,” kata kader NU yang aktif di PCINU Brunei Darussalam saat mengantar BANGSAONLINE sembari mengemudi. Namun berbeda dengan Thailand yang lalu lintasnya masih semrawut, Brunei sangat tertib dan teratur.
“Inilah cermin nilai-nilai Islam,” kata Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur yang satu mobil dengn BANGSAONLINE.
Ia mengaku kagum terhadap Brunei terutama karena kaya dan angat bersih.
“Sangat damai,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




