Budayawan Madura asal Sumenep, Syaf Anton WR
SUMENEP, BANGSAONLINE.com - Budayawan Madura, Syaf Anton. WR. mengomentari kasus oknum guru SMAN 1 Arjasa Sumenep yang diduga jarang mengajar atau kerap membolos selama 2 tahun belakangan.
Pria yang juga sastrawan kondang asal Sumenep itu merasa prihatin dengan kondisi tersebut. Menurutnya, di era digital saat ini, tak sepantasnya seorang guru alpa dalam proses belajar mengajar.
BACA JUGA:
- Harga Garam di Gili Raja Sumenep Turun Saat Musim Produksi Mulai Ramai
- 1.356 CJH Sumenep Berangkat ke Tanah Suci, Wabup Ingatkan Cuaca Ekstrem di Makkah
- YBM PLN Salurkan Bantuan Ternak Kambing untuk Buruh Serabutan di Sumenep
- Sambut Musim Tanam Tembakau, Petani Sumenep Mulai Semai Bibit, Harga Capai Rp50 Ribu per Ikat
Ia melihat, bolosnya guru untuk mengajar, berarti tak menghormati waktu untuk melakukan hal yang sangat penting di kehidupan.
“Kenapa begitu? karena menurut hemat saya bolos dapat diartikan sebagai tidak menghargai waktu yang telah dialokasikan untuk kegiatan tertentu,” kata Anton kepada BANGSAONLINE.com Minggu (22/11/2024).
Menurut Anton, bolos merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai budaya madura yang menjunjung tinggi kepatuhan kepada orang tua, guru dan tokoh masyarakat.
Apalagi, lanjut Anton, seorang guru memiliki tugas mulia untuk mencerdaskan, memberi ilmu pengetahuan dan wawasan kepada anak bangsa.
Pria nyentrik berambut gondrong sebahu ini mengandaikan, nilai kehidupan guru saat berangkat bekerja sama seperti orang yang pergi berlayar untuk mencari berkah dan rezeki.
“Bila pamitnya pada saat berangkat sembah sungkem terhadap kedua orang tua dengan ucapan 'Pak ban mak, sengko’ mangkadae alajar nyareya lako' (Bapak dan Ibu saya pamitan berlayar untuk mencari kerja),” terangnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




