Dr Muhammad Al Barraa dan dr Muhammad Rizal Octavian. Foto: istimewa
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com - Kontestasi politik Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Mojokerto telah usai. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mojokerto mengumumkan bahwa pasangan Dr Muhammad Al Barra (Gus Barra)-dr Muhammad Rizal Octavian (Mubarok) menang.
Gus Barra-Rizal meraih suara 372.537 atau 53,38% suara sah. Sedangkan pasangan Ikfina Fahmawati-Sya’dulloh Syarofi (Idola) mendapatkan 325.396 atau 46,62% suara sah.
Patisipasi pemilih sebesar 716.588 jiwa atau 84,74% dari daftar pemilih tetap (DPT) 845.655 jiwa. Terdiri dari 697.933 suara sah dan 18.655 suara tak sah.
Pertarungan politik di bumi Majapahit itu sempat sengit. Maklum, pertarungan politik itu terjadi antara calon bupati petahana Ikfina dengan sang penantang, Gus Barra, yang sebelumnya menjabat wakil bupati.
Apalagi, menurut survei, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Ikfina dan Gus Barra sama-sama tinggi. Sekitar 82%.
Yang menarik, Gus Barra sebagai penantang politik sempat diragukan bakal menang. Beberapa pejabat politik, baik tingkat lokal Mojokerto maupun regional Jawa Timur, meramal Gus Barra bakal kalah.
Ini mudah dipahami karena Gus Barra melawan petahana. Ikfina bahkan bukan hanya petahana. Tapi juga mewarisi dinasti politik suaminya, Mustofa Kamal Pasa (MKP).
Sang suami (MKP) menjabat bupati Mojokerto dua periode, 2010–2015 dan 2016–2021. Namun MKP harus berhenti di tengah jalan, karena ditangkap KPK pada 2018.
Sebagai petahana berbasis dinasti politik, Ikfina bisa “mengendalikan” organisasi perangkat daerah (OPD) dan kepala desa. Bahkan juga pengusaha. Dan itulah kekuatan utama politik Ikfina yang berpasangan dengan Gus Dulloh.
Tapi Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, kepada HARIAN BANGSA menyatakan, banyak juga kepala desa yang netral. Bahkan, tegas Kiai Asep, sebagian kepala desa mendukung Gus Barra dalam kapasitas pribadi.
“Memang perjuangan ini sangat berat,” kata ayahanda Gus Barra itu seperti dilansir HARIAN BANGSA, Sabtu (7/12/2024) pagi ini.
Gus Barra tidak hanya melawan petahana dan dinasti politik, tapi juga mitos politik. Menukil para teoritisi politik, mitos politik adalah narasi ideologis bernuansa mistis yang diyakini oleh kelompok sosial tertentu.
Dalam mitos politik yang berkembang di masyarakat Mojokerto, wakil bupati tak pernah bisa jadi bupati. Mitos politik itu sempat dipidatokan Gus Dulloh.
“Tidak pernah Wakil Bupati Mojokerto bisa menjadi Bupati Mojokerto,” kata Gus Dulloh di depan pendukungnya yang langsung disambut tawa. Ikfina yang berdiri disamping Gus Dulloh tertawa lebar.
“Jangan dikira saya tak melakukan penelitian,” tambah Gus Dulloh meyakinkan. “Tidak pernah terjadi sekalipun,” katanya lagi. Ikfina bertepuk tangan.
Tapi Kiai Asep lebih percaya kepada keampuhan doa. “Kita harus kerja keras dan berdoa secara maksimal,” kata Kiai Asep yang oleh tokoh pers Dahlan Iskan dijuluki sebagai Raja Doa dan Dermawan Besar.
“Saya belum pernah menemukan ‘juara doa’ melebih Kiai Asep. Banyak sekali orang yang percaya kekuatan doa. Tapi beliau adalah orang yang paling percaya pada kekuatan doa itu,” tulis mantan Menteri BUMN itu dalam Kata Pengantar buku berjudul Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, Kiai Miliarder Tapi Dermawan yang ditulis M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.
Menurut Kiai Asep, kita sebagai orang beriman tak boleh percaya kepada mitos. Apalagi Nyi Roro Kidul. Sebaliknya, kita harus percaya dan pasrah kepada pertolongan Allah SWT.
Karena itu setiap mengawali aktivitas politik – termasuk kampanye Gus Barra-Rizal – Kiai Asep mengawali dengan istighatsah, shalawatan, dan ditutup doa.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




