Assoc Prof. Dr. KH. Moch Syarif Hidayatullah, LC., CDAI, adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat dihormati. Putra pertama dari almarhum KH. Madiyani Iskandar dan Nyai Hj. Suaibah Shihab ini lahir di Pasuruan pada 29 Desember 1979.
Selain dikenal sebagai seorang dai, KH. Syarif juga memiliki latar belakang pendidikan yang mengesankan. Ia menempuh pendidikan S1 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), kemudian melanjutkan studi S2 dan S3 di Universitas Indonesia, sebelum akhirnya mendapatkan fellowship di sejumlah universitas ternama di luar negeri, seperti Marmara University di Istanbul, Turki, dan Universitas Umm al-Qura di Mekkah, Arab Saudi.
KH. Syarif juga aktif dalam berbagai kegiatan dakwah internasional, termasuk di Perancis, Jepang, Hongkong, Macau, Australia, New Zealand, Spanyol dan Yunani. Pengalamannya yang luas dalam berdakwah di mancanegara membuatnya dikenal sebagai seorang dai global yang memiliki daya tarik di kalangan berbagai kalangan, mulai dari kalangan muda, profesional hingga kaum perempuan.
Sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI), KH. Syarif terus mengembangkan jaringan dakwahnya. Selain itu, ia juga dipercaya menjadi tim ahli di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mengingat kiprahnya dalam menyebarkan pesan perdamaian dan toleransi antar umat beragama.
"Pernikahan ini bukan hanya soal ikatan antara dua keluarga, tetapi juga mempertemukan dua sosok yang dikenal memiliki peran penting dalam dunia keagamaan dan intelektual," terang Gus Shohib yang juga Ketua Majelis Alumni IPNU Kota Pasuruan.
Dalam dunia penulisan, KH. Syarif Hidayatullah juga tidak kalah produktif. Ia telah menerbitkan lebih dari 50 buku yang tersebar di berbagai penerbit ternama seperti Gramedia, Mizan, Serambi dan Erlangga. Karya-karya tulisannya banyak yang juga diterbitkan di luar negeri, memberikan kontribusi signifikan terhadap pemikiran Islam kontemporer.
Beberapa penghargaan yang pernah diraihnya antara lain Nominator peraih Desertasi Terbaik Mizan 2013, Dai Inspiratif Dompet Dhuafa (2018), dan Penerima Satyalencana Karya Satya (2015), penghargaan dari Pemerintah Indonesia untuk jasa-jasanya dalam pengabdian kepada masyarakat.
Tidak hanya dari sisi agama dan pendidikan, pernikahan Ning Hj. Maftuh dan KH. Syarif Hidayatullah juga dipandang sebagai simbol dari kesinambungan tradisi luhur dalam keluarga besar PBNU. KH. Miftachul Akhyar, sebagai Rais Aam PBNU, tentu memiliki pertimbangan matang dalam memberikan restu kepada menantunya.
Beliau menyadari betul bahwa KH. Syarif Hidayatullah bukanlah orang sembarangan. Selain memiliki latar belakang pendidikan yang luar biasa, KH. Syarif juga dikenal sebagai sosok yang berintegritas, penuh dedikasi, dan telah banyak memberikan kontribusi positif dalam dunia dakwah dan pendidikan.
"Pernikahan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antar keluarga besar NU dan memberikan kontribusi positif bagi dakwah Islam yang lebih inklusif dan ramah terhadap kemajuan zaman," pungkas Gus Shohib yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Jurnalis Nahdliyin Nusantara (IJNU) tersebut. (afa)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




